Senin, 04 Juli 2011

Desa Yang Kudatangi Hari Ini

Sawah tak membuat jejak jadi patah
ada saat akan menyatukan renggang
mendekati jarak-jarak
kemudian kembali kita berbincang-bincang
sambil menghirup udara hijau
melepas dahaga mengurai rindu
menyanyikan gita sukma
esokkan masih ada
di desa kecil
nan sejuk
nan damai
nan indah
nan ramai
desa dunia……..

Rupa dan wajahmu
sudah tertanam dihati………

Yogyakarta, 02 Juli 2011

Kamis, 30 Juni 2011

PERJALANAN 6

Kini aku melangkah kembali
ke desa yang pernah aku singgahi
karena kehilangan segala
termasuk kenang-kenangan……..

Cerita dusun hijau
saat pagi menjelang
menyampaikan kabar para petani……..

Aku tetap semangat
setia kembali menyusuri
lekuk tubuhmu
kendati habis asa
sekali jatuh tanpa pergi……..

Karena kau tetap gugusan
tempat rembulan dan bintang
yang hadir setiap waktu
membuatku terjaga
memandang wajah terangmu
menerima segala……..

Walaupun waktu terus belalu
aku tetap melangkah
tanpa bosan
melihat kenangan kian berkesan
pada pagi yang sejuk
pada pagi yang damai
pada pagi yang indah
pada pagi yang ramai……..

Kau tetap desa
dan aku setia
menikmati liku sawahmu
mengecap manisnya tubuhmu
hingga habis waktu……………….

(Pondok Petir, 01 Juli 2011)

Kamis, 23 Juni 2011

PERJALANAN BINTANG

Sahabatku, lihatlah bintang-bintang
dan langit yang terus membiru
tengadah dan lihatlah
bintang-bintang hidup di angkasa
bintang-bintang hidup di bumi
engkaulah itu
bintang-bintangku……..
……..Engkaulah bintang yang telah hadir
……..bersinar dengan ilmu
……..bercahaya dengan Sang Pencipta
Engkaulah yang terindah
tercantik dan sempurna
gemerlap dan benderang……..
……..Engkaulah itu, bersamaku
……..yang sedang disalinkan
……..engkau sendiri yang menyalinkan diri
……..seperti cita-citamu menjadi bintang

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ada kalanya membulat penuh
saat dikitari biasnya
sekali lagi permainan dimulai……..
……..Ada waktunya naik setelah turun
……..ada saatnya sang kelana kembali
……..pulang kegubuknya
Alang-alang tumbuh kerontang
menitis menjadi perdu-perdu
menjadi pohon-pohon
yang mati menitis pada satwa
menjelma menjadi orang
lalu ditempa api membara
lalu ingat akan gubuknya yang jauh
lalu mengenang dirinya sendiri
yang rindu rasa menyatu……..
……..Ada saatnya orang merasa puas
……..menjadi orang
……..menjadi bintang
……..yang siap menjadi penuntun
Diriku berputar
dari dataran rendah
dalam kesadaran
menjadi kesempurnaan sosok jiwa
dari nyata ke wujud cahaya……..
……..Bagai kepompong yang menjelma
……..dari merayap
……..menjadi haru
……..dari berat
……..menjadi sukacita
……..indah
……..hinggap di pohon
……..melayang terbang…………….

Pondok Petir, 22 Juni 2011
(Edy Nawir)

SELAMAT ULANG TAHUN

Semalam orang-orang berdiskusi
di sebuah kamar besar
bicara tentang kado
untuk esok hari
buat kota kesayangan mereka
sebagai ungkapan rasa
tanda terima kasih……..

Mereka semakin hebat
membahas dengan debat
saling berteriak
saling berkelit
saling berebut
saling ambisi
ketika malam mulai larut
cuaca tengah cerah merekah
sang kota tersenyum mendengarkan
merubah wajah
menjadi haru
tatkala terdengar
suara satu mereka
berharap besok
kota akan terkejut
terperanjat bahagia
ketika membuka buku-buku
hadiah orang-orang
karena isinya meledak………

Mungkin sang kota akan sedih
atau akan bahagia
atau akan terperanjat
atau mungkin akan terkejut juga
karena tidak ada kado……….

Jakarta, 22 Juni 2011
sajak buat Kota Jakarta
Dirgahayu Kota Jakarta yang ke-484
(Edy Nawir)

Rabu, 15 Juni 2011

PROSA KOLABORASI DALAM PUISI

Angin malam kerap mengibaskan
rambutmu jadi layarku
arungi samudera demi laut pertemuan kita
kerlingkan mata hingga tertutup
bibir tipismu turuti jiwa bergetar
menangkap rasa nan bergelora
dalam raga riakpun menepati janji
dia datang ke pantai ini
bersama jemari mengurai kembang, rambut tergerai lembut
serta bibir yang dahaga akan nyiur hijau
sekelebat hilang dalam pipa putih
dirimu seranum nyiur, diriku setajam sabit
begitu bisikan yang terdengar datang dari ujung laut
entah siapa……..

Kita balik kembali setelah lama ditinggalkan
orang-orang pinggiran yang acuh
tempat peraduan kasih kita
memadu rasa dan menyimpan duka kesejukan
yang terancam gelombang besar bergemuruh
tiba dari ufuk kasat penglihatan
yang menelan setiap tegak disisi lautan
membawa ikan-ikan berenang jauh
menggulung apapun yang ia inginkan
sehingga menghasilkan sepi
dan rasa sunyi yang senyap……….

Kita tak terpengaruh siang atau malam
tetap datang ke pantai nan selalu menyambut
emosi yang sama melumat ujung pangkal tubuh
menelan tumbuh kita memuntahkan seribu petaka
mungkin akan ada yang terlahir disini
bagai perompak laut berambut gimbal
berdoa memohon titipanNya
“Tuhanku……….tolong kirim titipan untukku……titipan yang cocok dengan emosiku……”
lalu berkata kecil, sesuatu tentang kebun indah dan musim semi
namun berubah bisikan tentang orang yang lari
menuju lautan yang menganga melumat sesaat…..

Kita tak pernah gelisah menggenggam tangan
bersama-sama melangkah menuju samudera
menentang prahara gelombang dahsyat
bagai bahtera jiwa diatas lautan luas
dengan badai ganas bergelora kalbu
memporakporandakan kerang dari titik yang dalam
hingga melarutkan sepi
karena rasa kasih yang membatu dihati
dalam ketenangan jiwa masih terdengar suara sayup-sayup
“…dimana suaramu, masih sirnakah?”
entah siapa……..

Kita akhirnya pulang meninggalkan pantai kelam
tanpa nyiur
tanpa bulan
tanpa bintang
tanpa sepi
tanpa sunyi
tapi dengan senyum dan dengan sinar
cerah dari tepi goresan pasir
putih lambang cinta kita
yang perlahan-lahan terhapus
ombak-ombak mengejar kita
menguap terbang kedalam jantung hati
saat mentari datang mengintip
kaupun tertunduk layu namun tetap gemulai
raut tampak sukacita kembali
ketika berbenah diri
ketika menyisir rambut
ketika mengusap mata
dalam melanjutkan perjalanan
waktu telah memainkan cinta kita…………..

sajak ini dipersembahkan khusus buat selingkuhanku
dan tim penggarap MPK Kompasiana.

(Edy Nawir)
Pondok Petir, 10 Juni 2011

Selasa, 10 Mei 2011

RINDU 4

Belum beberapa jauh melangkah
jejak telah terasa dekat
melekat........
walau seperti tak nampak
rasa itu pernah singgah
dan takdir tak bisa dinyana
diri dan kerabat
terus hidup terbayang
dalam hati jadi gambaran
sebuah keinginan jiwa
kiranya nyata tertata
bagai terlepas dahaga
semoga……..
ada getar asa peraduan
membayar rasa kasihku pada semua………….

(Pondok Petir, 11 Mei 2011)


Selasa, 03 Mei 2011

PEMILIHAN KETUA RUKUN WARGA DI DESA RANGKAT

Setelah desa indah yang sejuk damai mulai ramai, Rangkat mulai sibuk dengan penduduknya dan pak Kades Yayok Haryanto, telah menetapkan sistim organisasi desa yang dianggap penting demi kemajuan desa tersebut. Pemilihan Ketua Rukun Warga (RW) pun akhirnya telah dilaksanakan dengan aman dan tertib.

Sistim, tata cara, dan mekanisme pemilihan umum (pemilu) di Indonesia tampaknya telah mengakar hingga pada pemilihan Ketua RW yang baru. Hal ini terjadi di RW 01 Desa Rangkat. Kecamatan Elok. Kompasiana Pusat.


Ibu Kades Mommy, menjelaskan kepada seluruh warga, bahwa Desa Rangkat adalah wadah komunitas warga Kompasiana dalam menuangkan segala ide dan imajinasi kreatif akan sebuah desa yang tumbuh kembang bersama rasa Toleransi, Kesamaan, Persaudaraan dan Persahabatan juga rasa Kekeluargaan yang dijunjung tinggi. Desa Rangkat adalah desa yang dibangun dan dibesarkan melalui hati dan rasa dengan prinsip ‘diskusi elok sarat asah-asih-asuh dalam merangkai kata.


Dalam kesempatan di sebuah pertemuan warga desa, Ibu Kades Mommy pernah membacakan sajak tentang Desa Rangkat :


Sawah itu terbentang dalam ingatan…

hijau royo royo terhampar jauh di kaki bukit

itulah karunia Tuhan yang mencipta

jadilah, dan semuapun jadi

tanah dengan air

langit dengan udara

makhluk pun juga


Maka petanipun membentuk tanah jadi sawah

benihpun tumbuh diatasnya

aku bersyukur

diciptakan dari tanah

yang memberi makan bagi tubuh

yang menyediakan tempat bagi mati


(Mommy, 25 October 2010 10:34:29)

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2010/10/25/desa-rangkat-suatu-misteri-atau-keajaiban/


Pelaksanaan pemilihan Ketua RW 01 yang baru disambut gembira oleh seluruh warga desa. Gelaran pemilihan disulap layaknya pesta demokrasi pemilihan presiden (pilpres). Ada dua tempat pemungutan suara (TPS) atau bilik pencoblosan suara pun dibuat rapi sejajar. Setiap wakil warga yang telah memilih pun ditandai dengan tinta pada Jarinya. Luar biasa !


Dalam pemilihan ketua RW tersebut telah diatur sesuai dengan peraturan desa bahwa yang berhak memilih adalah wakil dari setiap RT. Walaupun tak semua warga memilih karena telah diwakili 6 orang setiap RT-nya, peristiwa yang baru pertama kali ini di RW 01, mengundang antusias seluruh warga. Sejak pukul 08.00 pagi mereka sudah berdatangan untuk menyaksikan pemungutan suara hingga penghitungannya.


TPS atau Bilik suara dan panggung kecil yang dibangun di Jalan Cinta. RT 01/01 Desa Rangkat, itu dipenuhi warga. Dari 5 RT ada 30 pemilih yang akan menentukan Ketua RW 01 Desa Rangkat yang baru.


Ketua Panitia Pemilihan Ketua RW 01 Sdr. Ade Supriadi (Ki Bodo Ade, Pemilik Klinik Cinta Rangkat. Awalnya sih tukang servis senter), mengungkapkan, mereka bekerja sejak 16 Maret 2011. Mulai dari penyaringan bakal calon hingga pendaftaran pemilih dilakukan secara intensif. Menurutnya, mulai dari kertas suara, pembuatan bilik dan panggung kecil tempat penghitungan suara dibuat secara swadaya oleh seluruh warga RW 01. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 1 Juta. Sebagian diambil dari kas RW sedangkan sebagian lagi sumbangan warga.


Dalam penyaringan bakal calon (balon) Ketua RW 01 ini, akhirnya ditetapkan 3 calon yakni: Sdr. Ibay (Ketua RT 05, punya usaha sampingan warung pojok Lebay), Sdr. Triansjah PJ (Komandan Hansip yang punya pentungan keramat, kadang-kadang nyambi jadi tukang jualan kompor), dari RT 02 dan Sdr. Edy Nawir dari RT 01.

Sebenarnya ada dua balon lagi yang lolos penyaringan, tapi dia telah mengundurkan diri, yaitu Sdr. Halim Malik (dari RT 03) dan Sdr. Helmi Budiprasetyo (dari RT 04).


Semua balon harus memenuhi syarat tertentu yakni harus warga desa Rangkat RW 01, berumur cukup yakni di atas 17 tahun, serta yang terpenting diajukan oleh pengurus atau Ketua RT-nya.

Warga Desa Rangkat saat ini berjumlah 159 orang, yang tersebar di 5 RT yaitu RT 01, RT 02, RT 03, RT 04 dan RT 05. Sehingga secara keseluruhan hanya ada 30 orang warga yang mempunyai hak memilih.

Anggota Dewan Desa Rangkat, Elvaretta / Perawan Alas (Neng Acik, Sekdes yang mondar-mandir bawa stempel. Hobi nya main ke hutan), yang juga warga RW 01, mengungkapkan 6 orang perwakilan dari setiap RT dianggap oleh warga sudah sangat mewakili mereka.

"Ini keputusan musyawarah RW dan semua warga menerimanya," kata Neng Acik, menjelaskan kepada seluruh warga yang hadir.


Oleh karena itulah banyak warga yang ikut menyaksikan pemilihan RW tersebut, sekalipun mereka tidak memberikan suara tetap antusias datang untuk melihat penghitungan suara karena merasa sudah terwakili. Ke-enam orang perwakilan warga setiap RT-nya yang berhak memberikan suara Itu terdiri dari 3 orang pengurus RT (yakni ketua RT, sekertaris dan bendahara RT), perwakilan ibu PKK. perwakilan Karang Taruna dan seorang tokoh masyarakat setempat.


Pelaksanaan pemilihan pun akhirnya dimulai pada jam 10.00 setelah pak Kades memberikan sepatah dua patah kata dan sekaligus memberikan tanda dimulainya pemilihan. Sementara para warga yang hadir menyaksikan menyambut gembira dengan semangat memberikan support seperti layaknya menonton pertandingan sepak bola, dimana mereka dengan serunya meneriakan yel-yel mereka. Setelah pelaksanaan pencoblosan usai dilanjutkan dengan pembukaan dan pembacaan suara yang syah.


Dari 30 orang pemilih yang mewakili warga dan berhak memberikan suaranya akhirnya Sdr. Edy Nawir sang incumbent terpilih menjadi Ketua RW dengan 16 suara. Sedangkan Sdr. Triansyah PJ mandapat 8 suara dan Sdr. Ibay mendapat 6 suara. Spirit demokrasi memang sangat tampak. Sejak awal kandidat yang duduk di depan panggung tampak sangat santai dan mengumbar senyum. Tak ada wajah tegang dan persaingan di antara ketiganya. Bahkan sesaat setelah acara penghitungan suara berakhir dengan terpilihnya Edy Nawir dua kandidat lain yakni Triansyah dan Ibay langsung memberi selamat kepada Ketua RW 01 terpilih.


Setelah selesai pemilihan tersebut, tepat jam 12.00 semua warga yang hadir makan siang bersama sebagai tanda gembira dan kebersamaan Desa Rangkat.Ini merupakan suatu fenomena yang positif. Harapan seluruh warga RW 01 dengan kepengurusan baru ini, yang berawal dari pesta demokrasi kecil menuju ke arah yang lebih baik, demi terciptanya masyarakat madani di Desa Rangkat yang indah dan damai ini.

Akhirnya selesailah sudah pemilihan Ketua RW 01 Desa Rangkat yang juga telah mencerminkan demokrasi dengan rasa toleransi, kebersamaan, persaudaraan, dan persahabatan juga rasa kekeluargaan yang telah dijunjung tinggi di Desa Rangkat.-

---------------------------------------------------------------------------------

Salam Manstaf Selalu.........

Salan De rangkat !

(Pondok Petir, 03 Mei 2011).