Sungguh taman itu telah tiba
dengan pintu gerbang putih
dihiasi bunga-bunga kebajikan
dilindungi hamparan rumput sedekah
dilengkapi kolam ringan tangan pada sesama……..
Sungguh kutelah masuk ke taman itu
paginya disejukkan doa fajar menyingsing
siangnya dihangatkan sinar mentari menahan nafsu
malamnya diterangi rembulan shalat malam
nikmatnya hidup di taman indah segala bulan…………….
(Pondok Petir, 01 Agustus 2011)
Minggu, 07 Agustus 2011
RAMADHAN
Malam ini kulihat bulan
walau kadang samar terlihat sinarnya
melengkapi langit berhias bintang
tanda-tanda malam-malam suci tiba
sedang berbaris menunggu giliran
bertemu kembali denganku
membawa catatan-catatan
yang akan dipersembahkan pada-Nya
setiap pagi menjelang……..
Akankah catatan-catatan itu
aku goreskan dengan segenap cinta
dapatkah kumerajut amal soleh
doa dan dzikir
ilmu nan bermanfaat
kitab suci dan sujud
bahagiakan kaum fakir
berbuat baik terhadap sesama
persembahan diriku pada-Nya
Ataukah aku akan alpa
membiarkan malam-malam suci berlalu
sambil mengucurkan air mata
tiada hingga
akibat rasa malu
ketika harus mempersembahkan
catatan-catatan kosong pada-Nya
yang telah banyak memberi……..
(Pondok Petir, 29 Juli 2011)
walau kadang samar terlihat sinarnya
melengkapi langit berhias bintang
tanda-tanda malam-malam suci tiba
sedang berbaris menunggu giliran
bertemu kembali denganku
membawa catatan-catatan
yang akan dipersembahkan pada-Nya
setiap pagi menjelang……..
Akankah catatan-catatan itu
aku goreskan dengan segenap cinta
dapatkah kumerajut amal soleh
doa dan dzikir
ilmu nan bermanfaat
kitab suci dan sujud
bahagiakan kaum fakir
berbuat baik terhadap sesama
persembahan diriku pada-Nya
Ataukah aku akan alpa
membiarkan malam-malam suci berlalu
sambil mengucurkan air mata
tiada hingga
akibat rasa malu
ketika harus mempersembahkan
catatan-catatan kosong pada-Nya
yang telah banyak memberi……..
(Pondok Petir, 29 Juli 2011)
[MPK] CURAHAN HATI NUNIL
Senja telah mulai sirna ketika udarapun tidak begitu bersahabat. Hujan turun dari mulai rintik-rintik hingga menjadi lebat bercampur badai. Mencekam sekali rasanya, apalagi listrik padam pada saat itu. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya keadaan desa Rangkat malam itu. Dan cukup lama keadaan tersebut baru mulai berbeda. Setelah hujan agak reda, Nunil mengambil HP nya lalu langsung menghubungi seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah ia temui.
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.
****************
“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri.
Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”. Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”
****************
“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.
****************
Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi. Nunil sengaja tidak menghubungi Adi lewat HP nya.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dihubungi lewat HP pun tidak ada jawaban. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari dan berikutnya hanyalah harapan dan penantian yang tak berujung. Akhirnya Nunil mulai kesal karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.
****************
Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri. Saat itu perasaan Nunil kepada Adi biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, dan tidak kangen kepada Adi. Perasaannya sungguh aneh, karena semuanya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Biasa saja. Sangat datar.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu” Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…” Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah…”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.
****************
Nunil baru saja tiba di rumahnya. Ia tampak lusuh setelah seharian penuh pergi ke kampus membantu persiapan lomba penulisan prosa disana. Gadis berambut pendek itu langsung ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas kasur. Ada sesuatu yang lebih melelahkan dirinya selain karena melaksanakan tugas kepanitiaan. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Nunil bertemu Adi sedang berduaan dengan wanita lain. Tapi disaat itu ia sudah benar-benar tidak merasakan kecewa lagi. Namun hatinya seperti telah merasakan kelelahan yang amat dahsyat, sehingga ia langsung terlelap tanpa sadar tidak seperti biasanya. Lama Nunil tertidur hingga ia terjaga ketika mendengar suara dering HP nya.
“Selamat malam……..”, Nunil menyapa.
“Malam, Nunil…”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menghubungi Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo…….”, Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru mematikan HP nya.
****************
Geliat cinta dua antara insan.
Terkadang senyap dan sesekali mejulangi
Mengangkasa hingga tak dapat diraih lagi
Semua ada karena kebersamaan
Cinta yang jauh di ujung sana
Menanti dan mengharap pertemuannya
Dalam gelisah tiada tara
Meski batin tak bisa mengikat diantara keduanya
Suatu ketika cinta itu ternoda
Walau tiada kotoran yang merajahnya
Semua terjadi karena salah yang tipis saja
Hingga akhirnya menghapus rasa yang ada
Saat ini kebersamaan itu telah terganti
Rasa cinta yang selalu terobati
Karena ada dan selalu menemani
Dalam setiap resah dan gelisah yang merajahi
****************
Saat ini, disebuah taman yang indah terlihat dua sosok remaja yang sedang bercerita. Mereka terlihat senang bercengkrama. Kebahagiaan itu terpancar dari kedua senyumnya yang senantiasa saling membalas. Indah ditemani kupu kupu yang terbang diantara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Hijau dedaunan dan rumput disekitarnya. Melengkapi perasaan mereka yang baru tumbuh dan semakin memperkuat akar akarnya. Karena cinta diantara keduanya berawal dari akar persahabatan yang sejak lama bersarang. Mereka kini menyirami akar itu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Kedua sejoli tersebut duduk ditaman saling berhadapan. Mereka saling berucap janji untuk selalu menjaga cinta diantara keduanya. Karena mereka telah memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing. Mereka berjanji untuk saling melengkapi. Sebagai pasangan kekasih.-
*********O*********
Penulis : R-82 & Edy Priyatna Nomor peserta: 228
(10 Juni 2011)
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.
****************
“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri.
Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”. Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”
****************
“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.
****************
Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi. Nunil sengaja tidak menghubungi Adi lewat HP nya.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dihubungi lewat HP pun tidak ada jawaban. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari dan berikutnya hanyalah harapan dan penantian yang tak berujung. Akhirnya Nunil mulai kesal karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.
****************
Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri. Saat itu perasaan Nunil kepada Adi biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, dan tidak kangen kepada Adi. Perasaannya sungguh aneh, karena semuanya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Biasa saja. Sangat datar.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu” Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…” Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah…”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.
****************
Nunil baru saja tiba di rumahnya. Ia tampak lusuh setelah seharian penuh pergi ke kampus membantu persiapan lomba penulisan prosa disana. Gadis berambut pendek itu langsung ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas kasur. Ada sesuatu yang lebih melelahkan dirinya selain karena melaksanakan tugas kepanitiaan. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Nunil bertemu Adi sedang berduaan dengan wanita lain. Tapi disaat itu ia sudah benar-benar tidak merasakan kecewa lagi. Namun hatinya seperti telah merasakan kelelahan yang amat dahsyat, sehingga ia langsung terlelap tanpa sadar tidak seperti biasanya. Lama Nunil tertidur hingga ia terjaga ketika mendengar suara dering HP nya.
“Selamat malam……..”, Nunil menyapa.
“Malam, Nunil…”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menghubungi Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo…….”, Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru mematikan HP nya.
****************
Geliat cinta dua antara insan.
Terkadang senyap dan sesekali mejulangi
Mengangkasa hingga tak dapat diraih lagi
Semua ada karena kebersamaan
Cinta yang jauh di ujung sana
Menanti dan mengharap pertemuannya
Dalam gelisah tiada tara
Meski batin tak bisa mengikat diantara keduanya
Suatu ketika cinta itu ternoda
Walau tiada kotoran yang merajahnya
Semua terjadi karena salah yang tipis saja
Hingga akhirnya menghapus rasa yang ada
Saat ini kebersamaan itu telah terganti
Rasa cinta yang selalu terobati
Karena ada dan selalu menemani
Dalam setiap resah dan gelisah yang merajahi
****************
Saat ini, disebuah taman yang indah terlihat dua sosok remaja yang sedang bercerita. Mereka terlihat senang bercengkrama. Kebahagiaan itu terpancar dari kedua senyumnya yang senantiasa saling membalas. Indah ditemani kupu kupu yang terbang diantara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Hijau dedaunan dan rumput disekitarnya. Melengkapi perasaan mereka yang baru tumbuh dan semakin memperkuat akar akarnya. Karena cinta diantara keduanya berawal dari akar persahabatan yang sejak lama bersarang. Mereka kini menyirami akar itu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Kedua sejoli tersebut duduk ditaman saling berhadapan. Mereka saling berucap janji untuk selalu menjaga cinta diantara keduanya. Karena mereka telah memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing. Mereka berjanji untuk saling melengkapi. Sebagai pasangan kekasih.-
*********O*********
Penulis : R-82 & Edy Priyatna Nomor peserta: 228
(10 Juni 2011)
Rabu, 27 Juli 2011
KEPADA SANG PEMIMPIN
Pakaian lengkap berdasi
kendaraan mewah itu pasti
berkerja keras seperti
senantiasa mengabdi sejati
padahal hanya untuk diri
tak banyak yang tahu mengerti………
Sibuk tak berkeringat
gaji besar selalu nikmat
dihormat karena pangkat
selalu senang berserikat
jaminan sepanjang hayat
tapi selalu lupa kepada rakyat……..
Kepada yang rapi lengkap berdasi
bersaing demi sebuah kursi
tak banyak yang tahu mengerti
kepada yang sibuk tak berkeringat
bersaing berpacu kenaikan pangkat
tapi selalu lupa kepada rakyat
adakah mata hati terbuka……..
Ketika rakyat butuh pakaian
ketika rakyat butuh kendaraan
ketika rakyat tahu mengerti
ketika rakyat butuh gaji
ketika rakyat butuh jaminan
ketika rakyat butuh perlindungan
dimanakah kebijaksanaanmu……..
Korupsi makin merajalela
musibah selalu terjadi
pejabat semakin senang
rakyat selalu menderita
sampai kapankah ini akan terjadi……..
Pakaian lengkap berdasi
kendaraan mewah itu pasti
berkerja keras seperti
senantiasa mengabdi sejati
padahal hanya untuk diri
apakah sudah tahu mengerti………
Sibuk tak berkeringat
gaji besar selalu nikmat
dihormat karena pangkat
selalu senang berserikat
jaminan sepanjang hayat
apakah segera ingat kepada rakyat……..
Kepada yang rapi lengkap berdasi
berhentilah berkerja untuk diri sendiri
ingatlah kini sudah banyak yang tahu mengerti
kepada yang sibuk tak berkeringat
berhentilah berkerja mencari harta
ingatlah selalu kepada rakyat
bukalah mata hati……..
marilah kita bersatu……..
berdoa bersama demi kemakmuran negeri……..
(Pondok Petir, 23 Juli 2011)
kendaraan mewah itu pasti
berkerja keras seperti
senantiasa mengabdi sejati
padahal hanya untuk diri
tak banyak yang tahu mengerti………
Sibuk tak berkeringat
gaji besar selalu nikmat
dihormat karena pangkat
selalu senang berserikat
jaminan sepanjang hayat
tapi selalu lupa kepada rakyat……..
Kepada yang rapi lengkap berdasi
bersaing demi sebuah kursi
tak banyak yang tahu mengerti
kepada yang sibuk tak berkeringat
bersaing berpacu kenaikan pangkat
tapi selalu lupa kepada rakyat
adakah mata hati terbuka……..
Ketika rakyat butuh pakaian
ketika rakyat butuh kendaraan
ketika rakyat tahu mengerti
ketika rakyat butuh gaji
ketika rakyat butuh jaminan
ketika rakyat butuh perlindungan
dimanakah kebijaksanaanmu……..
Korupsi makin merajalela
musibah selalu terjadi
pejabat semakin senang
rakyat selalu menderita
sampai kapankah ini akan terjadi……..
Pakaian lengkap berdasi
kendaraan mewah itu pasti
berkerja keras seperti
senantiasa mengabdi sejati
padahal hanya untuk diri
apakah sudah tahu mengerti………
Sibuk tak berkeringat
gaji besar selalu nikmat
dihormat karena pangkat
selalu senang berserikat
jaminan sepanjang hayat
apakah segera ingat kepada rakyat……..
Kepada yang rapi lengkap berdasi
berhentilah berkerja untuk diri sendiri
ingatlah kini sudah banyak yang tahu mengerti
kepada yang sibuk tak berkeringat
berhentilah berkerja mencari harta
ingatlah selalu kepada rakyat
bukalah mata hati……..
marilah kita bersatu……..
berdoa bersama demi kemakmuran negeri……..
(Pondok Petir, 23 Juli 2011)
LUKISAN NEGERI
Sebuah realisasi kehidupan yang berjalan
suka dan duka
dalam cerah membentang mega kelabu
dalam kegembiraan ada kesusahan
dalam suka terbesit kesengsaraan
tetapi hidup tidak untuk disesali……..
Langit terkadang tak seindah yang terlihat
biru dan hitam
dalam gulungan kerap mangsai
dalam senyum besar para pemimpin
ada tangisan kecil rakyat
saat epidemi tiba dari muka hingga ke batas
saat itu pula penyelewengan naik ke permukaan
hati ini ingin menjerit
jiwa terasa bergejolak
ragapun ingin beranjak
tetapi kaki tidak dapat digeraki……..
Gunung nan selalu ramahpun menjadi murka
sejuk dan membara
dalam gelap tangannya berdarah
dalam menuntut rasa kemanusiaan
penuh perjuangan hidup hingga mati
setiap bala bantuan datang bagi rakyat
setiap itu pula kebahagiaan pemimpin tiba
masuk ke dalam kalbu nan resah
jiwa ingin berontak
mulutpun ingin berteriak
namun lidah ini terasa kelu……..
Hidup kita penuh cita-cita
suka dan duka
kehidupan adalah bangkit
dari putaran dan keterpurukan
betapa beruntungnya kita ini
telah hidup di negeri berdaulat
walau keadilan masih belum begitu dijunjung tinggi……
Enam puluh enam tahun kita belajar hidup
kendati belum maksimal
kesinambungan berjalan perlahan
bertahan dalam damai tanpa perang
negeri sejuk karena kerukunan
menciptakan kebersamaan nan indah
menuju masa depan dengan keihklasan
dalam perlindungan-Nya pada setiap waktu……………..
(Pondok Petir, 21 Juli 2011)
suka dan duka
dalam cerah membentang mega kelabu
dalam kegembiraan ada kesusahan
dalam suka terbesit kesengsaraan
tetapi hidup tidak untuk disesali……..
Langit terkadang tak seindah yang terlihat
biru dan hitam
dalam gulungan kerap mangsai
dalam senyum besar para pemimpin
ada tangisan kecil rakyat
saat epidemi tiba dari muka hingga ke batas
saat itu pula penyelewengan naik ke permukaan
hati ini ingin menjerit
jiwa terasa bergejolak
ragapun ingin beranjak
tetapi kaki tidak dapat digeraki……..
Gunung nan selalu ramahpun menjadi murka
sejuk dan membara
dalam gelap tangannya berdarah
dalam menuntut rasa kemanusiaan
penuh perjuangan hidup hingga mati
setiap bala bantuan datang bagi rakyat
setiap itu pula kebahagiaan pemimpin tiba
masuk ke dalam kalbu nan resah
jiwa ingin berontak
mulutpun ingin berteriak
namun lidah ini terasa kelu……..
Hidup kita penuh cita-cita
suka dan duka
kehidupan adalah bangkit
dari putaran dan keterpurukan
betapa beruntungnya kita ini
telah hidup di negeri berdaulat
walau keadilan masih belum begitu dijunjung tinggi……
Enam puluh enam tahun kita belajar hidup
kendati belum maksimal
kesinambungan berjalan perlahan
bertahan dalam damai tanpa perang
negeri sejuk karena kerukunan
menciptakan kebersamaan nan indah
menuju masa depan dengan keihklasan
dalam perlindungan-Nya pada setiap waktu……………..
(Pondok Petir, 21 Juli 2011)
SAHABATKU
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
rintikan gerimis deras yang turun
menyirami setiap jengkal tanah lama berdebu
hingga mampu menciptakan taman bunga dedaun
dalam kesucian hati……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
kumpulan air mata air telaga suci
mengalir setiap saat tiada hingga berhenti
melepas rasa dahaga
ke dalam kesegaran jiwa……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
dia tetesan embun
menjatuh basahi kekeringan jiwa
menyuburkan seluruh mahligai sanubari
di dalam kehijauan bumi……..
Kepada para pengembara alam
mampirlah di saungku
kabarkanlah padaku
tentang dirinya
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
pohon rindang sejuta dahan
melindungi sengatan mentari nan tak tertahan
sampai mampu menyampaikan keteduhan
dalam keindahan
keramaian
kesejukan
kedamaian……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
bintang gemerlap di malam raya
menemani rembulan luka nestapa
menerangi luas hitam semesta
dengan kebersamaan……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
kumpulan mutu manikam
bercahaya indah anugerah hati sang pencipta
mampu menebar pesona jiwa
pada kemuliaan……..
Kepada burung-burung terbang
turunlah di tangkaiku
ceritakanlah padaku
tentang hadirnya
sahabat yang datang dan pergi dalam terangku……..
(Pondok Petir, 19 Juli 2011)
rintikan gerimis deras yang turun
menyirami setiap jengkal tanah lama berdebu
hingga mampu menciptakan taman bunga dedaun
dalam kesucian hati……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
kumpulan air mata air telaga suci
mengalir setiap saat tiada hingga berhenti
melepas rasa dahaga
ke dalam kesegaran jiwa……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
dia tetesan embun
menjatuh basahi kekeringan jiwa
menyuburkan seluruh mahligai sanubari
di dalam kehijauan bumi……..
Kepada para pengembara alam
mampirlah di saungku
kabarkanlah padaku
tentang dirinya
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
pohon rindang sejuta dahan
melindungi sengatan mentari nan tak tertahan
sampai mampu menyampaikan keteduhan
dalam keindahan
keramaian
kesejukan
kedamaian……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
bintang gemerlap di malam raya
menemani rembulan luka nestapa
menerangi luas hitam semesta
dengan kebersamaan……..
Sahabat yang datang dan pergi dalam terangku
kumpulan mutu manikam
bercahaya indah anugerah hati sang pencipta
mampu menebar pesona jiwa
pada kemuliaan……..
Kepada burung-burung terbang
turunlah di tangkaiku
ceritakanlah padaku
tentang hadirnya
sahabat yang datang dan pergi dalam terangku……..
(Pondok Petir, 19 Juli 2011)
RASA
Saat aku tutup mata
semua terasa sunyi
kelam
kosong
tanpa suara
tenang……..
Namun…
saat aku buka mata
terlihat keramaian,
terang benderang
riuh rendah……..
Tetapi…
belum bersih…
belum dingin…
belum menyenangkan…
Ingin aku tutup mata ini selama mungkin
tetapi aku tak mampu
keramaian itu memanggilku
menarik perhatian……..
Aku hanya bisa mencuci mata
sukma mulai sesak,
hati terasa penat
harap ramai jadi ketenangan……..
Terang benderang penenang kalbu
riuh rendah pendamai jiwa
tidak menjadi pertikaian
tidak pula permusuhan
tetapi persaudaraan……..
(Jakarta, 15 Juli 2011)
semua terasa sunyi
kelam
kosong
tanpa suara
tenang……..
Namun…
saat aku buka mata
terlihat keramaian,
terang benderang
riuh rendah……..
Tetapi…
belum bersih…
belum dingin…
belum menyenangkan…
Ingin aku tutup mata ini selama mungkin
tetapi aku tak mampu
keramaian itu memanggilku
menarik perhatian……..
Aku hanya bisa mencuci mata
sukma mulai sesak,
hati terasa penat
harap ramai jadi ketenangan……..
Terang benderang penenang kalbu
riuh rendah pendamai jiwa
tidak menjadi pertikaian
tidak pula permusuhan
tetapi persaudaraan……..
(Jakarta, 15 Juli 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)

