Minggu, 21 Agustus 2011

RAMADHAN 6

Adalah bulan untuk melatih
jiwa nan sadar
rendah hati pada sesama,
tiada merasa paling mulia,
hindari bertentangan pada saudara
pantang angkuh di muka bumi
takut meremehkan orang lain……..

Adalah bulan untuk mengetahui
hati nan murni
bertujuan hidup mencintai dicintai
Allah nan Maha Pengasih
yang tidak menyukai
laga pertikaian
lagi pertentangan
lagu kesombongan……..

Adalah bulan untuk meraih segala
anugerah Allah
rachmat nan suci
pengampuan hati
pembebasan diri
menuju kemenangan
lahir dan bathin…………….

(Pondok Petir, 11 Agustus 2011)

RAMADHAN 5

Rahasia bulan
yang datang kemarin
adalah rachmat nan tiada henti
bertabur bintang
di setiap bidang
senantiasa terang benderang

Rahasia bulan
yang masuk hari ini
adalah pintu nan selalu terbuka
dengan keikhlasan
di dalam kalbu
sarat pengampunan suci

Rahasia bulan
yang menunggu esok lusa
adalah hari pembebasan
menuju kemenangan diri
di setiap jiwa
kembali dalam fitrah

Bila waktu telah hilang
saat kan sirna
raga meregang
jiwa melepas
tiada lagi ikhtiar

Bila tangan menggenggam biji
tak perlu ragu menanam
karena sesungguhnya
Dia tak melihat hasil
Dia selalu menghargai
upaya diri atas petunjuk
seperti kiat menahan nafsu
dalam bulan yang datang
kemarin
hari ini
esok lusa
disiplin diri jalani norma
sebagai bukti usaha jiwa
untuk selalu tunduk kepadaNya

(Pondok Petir, 10 Agustus 2011)

Minggu, 07 Agustus 2011

RAMADHAN 4

Dari hulu mengalir deras
butir-butir cahaya jernih
limpahan rachmat
menuju pengampunan jiwa
demi meraih pembebasan diri……..

Pada muara menyeruak lepas
bias sinar rembulan
menghilangkan kegelapan
menampakan jejak alami
guna menerangi gejolak kalbu……..

Hingga akhirnya asa menjelma
nyata dengan indah
adalah upaya mengenal jiwa
bersihkan seluruh raga
makin meyakinkan hati
pada sang penguasa
melalui revolusi benak pikiran
sadar mendekatkan diri
kepada Sang Pencipta

(Pondok Petir, 04 Agustus 2011)

RAMADHAN 3

Wahai ramadhanku
lumatlah ragaku
dengan sejuknya sahur
dengan panasnya lapar
dengan keringnya dahaga
kebenaran……..
agar diri menjadi putih
jiwa terlapis mental
melepas semua noktah hitam

Wahai Ramadhanku
basuhlah hatiku
dengan mata airmu
dengan nikmatnya lapar
dengan nikmatnya dahaga
pahalamu……..
agar semua dosa-dosaku larut
tersapu aliran sungai beningmu
yang penuh dengan cahaya indah

senantiasa mengalir siang dan malam……..

(Pondok Petir, 02 Agustus 2011)

RAMADHAN 2

Sungguh taman itu telah tiba
dengan pintu gerbang putih
dihiasi bunga-bunga kebajikan
dilindungi hamparan rumput sedekah
dilengkapi kolam ringan tangan pada sesama……..

Sungguh kutelah masuk ke taman itu
paginya disejukkan doa fajar menyingsing
siangnya dihangatkan sinar mentari menahan nafsu
malamnya diterangi rembulan shalat malam
nikmatnya hidup di taman indah segala bulan…………….

(Pondok Petir, 01 Agustus 2011)

RAMADHAN

Malam ini kulihat bulan
walau kadang samar terlihat sinarnya
melengkapi langit berhias bintang
tanda-tanda malam-malam suci tiba
sedang berbaris menunggu giliran
bertemu kembali denganku
membawa catatan-catatan
yang akan dipersembahkan pada-Nya
setiap pagi menjelang……..

Akankah catatan-catatan itu
aku goreskan dengan segenap cinta
dapatkah kumerajut amal soleh
doa dan dzikir
ilmu nan bermanfaat
kitab suci dan sujud
bahagiakan kaum fakir
berbuat baik terhadap sesama
persembahan diriku pada-Nya

Ataukah aku akan alpa
membiarkan malam-malam suci berlalu
sambil mengucurkan air mata
tiada hingga
akibat rasa malu
ketika harus mempersembahkan
catatan-catatan kosong pada-Nya
yang telah banyak memberi……..

(Pondok Petir, 29 Juli 2011)

[MPK] CURAHAN HATI NUNIL

Senja telah mulai sirna ketika udarapun tidak begitu bersahabat. Hujan turun dari mulai rintik-rintik hingga menjadi lebat bercampur badai. Mencekam sekali rasanya, apalagi listrik padam pada saat itu. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya keadaan desa Rangkat malam itu. Dan cukup lama keadaan tersebut baru mulai berbeda. Setelah hujan agak reda, Nunil mengambil HP nya lalu langsung menghubungi seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah ia temui.
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.

****************

“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri.
Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”. Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”

****************

“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.

****************

Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi. Nunil sengaja tidak menghubungi Adi lewat HP nya.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dihubungi lewat HP pun tidak ada jawaban. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari dan berikutnya hanyalah harapan dan penantian yang tak berujung. Akhirnya Nunil mulai kesal karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.

****************

Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri. Saat itu perasaan Nunil kepada Adi biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, dan tidak kangen kepada Adi. Perasaannya sungguh aneh, karena semuanya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Biasa saja. Sangat datar.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu” Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…” Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah…”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.

****************

Nunil baru saja tiba di rumahnya. Ia tampak lusuh setelah seharian penuh pergi ke kampus membantu persiapan lomba penulisan prosa disana. Gadis berambut pendek itu langsung ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas kasur. Ada sesuatu yang lebih melelahkan dirinya selain karena melaksanakan tugas kepanitiaan. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Nunil bertemu Adi sedang berduaan dengan wanita lain. Tapi disaat itu ia sudah benar-benar tidak merasakan kecewa lagi. Namun hatinya seperti telah merasakan kelelahan yang amat dahsyat, sehingga ia langsung terlelap tanpa sadar tidak seperti biasanya. Lama Nunil tertidur hingga ia terjaga ketika mendengar suara dering HP nya.
“Selamat malam……..”, Nunil menyapa.
“Malam, Nunil…”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menghubungi Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo…….”, Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru mematikan HP nya.

****************

Geliat cinta dua antara insan.
Terkadang senyap dan sesekali mejulangi
Mengangkasa hingga tak dapat diraih lagi
Semua ada karena kebersamaan

Cinta yang jauh di ujung sana
Menanti dan mengharap pertemuannya
Dalam gelisah tiada tara
Meski batin tak bisa mengikat diantara keduanya

Suatu ketika cinta itu ternoda
Walau tiada kotoran yang merajahnya
Semua terjadi karena salah yang tipis saja
Hingga akhirnya menghapus rasa yang ada

Saat ini kebersamaan itu telah terganti
Rasa cinta yang selalu terobati
Karena ada dan selalu menemani
Dalam setiap resah dan gelisah yang merajahi

****************

Saat ini, disebuah taman yang indah terlihat dua sosok remaja yang sedang bercerita. Mereka terlihat senang bercengkrama. Kebahagiaan itu terpancar dari kedua senyumnya yang senantiasa saling membalas. Indah ditemani kupu kupu yang terbang diantara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Hijau dedaunan dan rumput disekitarnya. Melengkapi perasaan mereka yang baru tumbuh dan semakin memperkuat akar akarnya. Karena cinta diantara keduanya berawal dari akar persahabatan yang sejak lama bersarang. Mereka kini menyirami akar itu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Kedua sejoli tersebut duduk ditaman saling berhadapan. Mereka saling berucap janji untuk selalu menjaga cinta diantara keduanya. Karena mereka telah memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing. Mereka berjanji untuk saling melengkapi. Sebagai pasangan kekasih.-

*********O*********

Penulis : R-82 & Edy Priyatna Nomor peserta: 228
(10 Juni 2011)