Minggu, 28 Agustus 2011

[ECR] PERJALANAN DEVI (Nunil 1)

Sudah lima belas menit aku berdiri di terminal Giwangan. Saat itu waktu telah menujukkan pukul 15.00 WIB. Pesan singkat yang aku kirimkan belum pula ia balas. Aku pun bingung. Kuputuskan saja untuk tetap menunggu di sini. Toh kami sudah berjanji akan bertemu di sini tepat pukul tiga petang. Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke handphone yang sedang aku genggam. Ternyata dari dia. Yah, baru berangkat dari kos. Wah alamat lama aku menunggu. Biarlah… Aku keluarkan sebuah buku dari tasku. Sekedar mengisi waktu daripada hanya diam menunggu.

Tanpa terasa sudah sembilan prosa dalam buku antalogi karya MPK yang telah kubaca ketika sosok itu muncul dengan senyumnya di pintu masuk terminal. Walau tersenyum, tetap saja masih tergurat aura kesedihan. ”Ah, siapakah laki-laki bodoh itu yang meninggalkan perempuan semanis dirimu”, tanya dalam benakku.
”Sudah lama nunggu mas Bowo?”, itulah kata pertama yang meluncur dari bibirnya.
”Ya…, sejak aku kirim sms tadi. Koq sudah sampai, memang kosmu dimana? Bukannya Jl. Magelang?”, jawabku.
”Semalam Devi menginap di tempat teman mas. Cari suasana baru.”
”Ohh…”, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

Kami pun akhirnya berjalan menuju tempat angkot. Kami putuskan untuk segera menuju Kampus. Memang hari itu dia berjanji untuk mengantarkan aku untuk mengelilingi Kampus. Ya…, sekedar alasan agar aku bisa berjalan-jalan dengannya. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di angkot. Sesekali aku hanya mencoba mencuri pandang ke arahnya. Ah…, ternyata hanya sampai sejauh itu keberanianku. Yang seketika merasa menjadi seorang pengecut.

Akhirnya kami sampai juga di Kampus IMY. Kampus yang cukup asri. Pohon-pohon besar ada di sana-sini. Aku langsung merasa nyaman. Suasana yang tak jauh berbeda dengan suasana kampusku. Perjalanan kami mulai dari fakultas tempat ia melanjutkan studinya, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Kemudian kami menyusuri area Kampus sampai ke Fakultas Kedokteran dan akhirnya kembali lagi di Kompleks Fakultas ISIP.

Hingga akhirnya ngabuburitpun mendekati waktu berbuka puasa. Lalu kami putuskan untuk berbuka di kantin yang ada dekat kampus. Menu yang kupilih, nasi gudeg opor ayam, kolak plus es teh manis. Dia hanya memesan kolak dan minuman saja.
”Lho kamu nggak makan?” tanyaku.
”Nggak, Mas. Aku lagi malas makan.”
”Lalu kapan makannya?”
”Kalau lapar bangetz nanti jam sepuluh atau pas sahur ajah.”
”Wah, hati-hati sakit lho…” tanpa sadar aku perhatian.
”Iya mas……”
”Sepertinya kamu terlihat pucat, Dev…”
”Ah Devi nggak apa-apa koq mas…,” jawabnya sambil berusaha mengembangkan senyum. Namun masih saja kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Masih sangat jelas.
Seandainya aku boleh dan bisa menghapus sedih yang ada di dirimu. Apapun caranya, pasti akan kulakukan. Akupun semakin penasaran, laki-laki seperti apakah yang tega membuatmu seperti ini……

(Pondok Petir, 24 Agustus 2011)

SEBUAH PARCEL INDAH TELAH DIKIRIM KE RUMAHKU

Tepat pukul 12.15 WIB pada hari Senin kemarin, saat aku baru saja selesai shalat Dzuhur tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi dering handphone yang ada disaku celanaku. Ternyata mantan kekasihku yang menelepon. Cukup lama aku berpikir untuk menerimanya. Ada kabar apa sebenarnya dia meneleponku, karena hal itu diluar kebiasaannya. Akhirnya setelah lama kupertimbangkan, kuterima juga telepon itu.

“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Wa’alaikumsalam…..”
“Ayah……..”
“Ya…ada apa Bu…”
“Ini Yah….ada paket kiriman dari Yogyakarta”
“Apa….paket parcel, ya Bu?”
“Nggak tahu nih….mungkin juga kali?”
“Dibuka saja kalau gitu Bu…..”
“Iya deh Ibu buka sekarang…..”

Aku bingung, siapa yang telah mengirimkan parcel untukku. Yang mengherankan parcel itu dikirim dari Yogyakarta lagi. Siapa sahabatku yang tinggal di Yogyakarta itu? Seingatku temanku disana banyak sekali. Aku jadi mengingat-ingat kembali terutama sahabat-sahabatku yang pernah aku temui dua bulan yang lalu. Ketika itu aku menghadiri pertemuan ‘Desa Rangkat’ di Ganjuran, Yogyakarta. Ada Pak Emmanuel Astokodatu, Mas Odi Shalahuddin, Mas Halim malik, Bowo Bagus, Afandi Sido, Devi Juniarsih dan rekan-rekan dari grup ‘Canting’. Tak ada yang terbesit dalam benakku siapakah sahabatku yang telah mengirimkan paket parcel itu.

“Ayah….isinya buku Yah….”
“Apa Bu, buku?”
“Iya ini buku antologi karya, bagus sekali bukunya Yah….”
“Wah….bagus dong Bu….”
“Ini parcel yang indah Yah…koq kita bisa mendapatkan ini sih?”
“Ayah nggak tahu….nanti saja deh ayah lihat dulu parcelnya, sudah dulu ya Bu…Ayah mau kerja lagi,” kataku mengakhiri telepon dari rumah. Sementara aku masih belum tahu siapa pengirim paket parcel itu. Lalu aku mulai lagi dengan melaksanakan tugasku dengan mulai melupakan kabar paket parcel tersebut.

****************

Ketika tiba di rumah waktu itu tepat pukul 22.30 WIB aku langsung menanyakan paket parcel yang telah dikabari istriku tadi siang. Setelah aku lihat ternyata paket tersebut memang berisi sebuah buku yang indah kiriman ‘Indie Book Corner’ yang beralamatkan Gambiran Baru UH 5 Gang Ksatria II No.36 RT 45 RW 8 Yogyakarta.
“Ini sih buku Malam Prosa Kolaborasi Bu….”
“Iya tadi Ibu sudah membacanya…..bagus sekali isinya”
“Baca yang bagian mana Bu…..”
“Ibu baru baca ‘Sabda Semesta’ dan ‘Aku China, Kamu Jawa, Wo Ai Ni…’ bagus sekali prosanya Yah…”
“Lho, pasti baguslah Bu…..ini karya kolaborasi yang manstaf”
“Oiya tadi Ayah mau memberi tahu kenapa kita mendapatkan buku ini?”
“Hehe….berarti Ibu belum membaca prosa ‘Curahan Hati Nunil’ ya…?” jawabku dengan senyum. Aku baru sadar kalau pernah menjadi peserta festival Malam Prosa Kolaborasi (MPK) di Kompasiana pada tanggal 10 - 11 Juni 2011 yang lalu. Lalu aku membuka buku itu pada halaman 125, disana terdapat tulisan prosa karya kolaborasiku dengan R-82. Aku memang telah terdaftar sebagai peserta MPK No.228 bersama dengan sahabatku R-82 (Syaroni). Kemudian aku buka halaman 735, ternyata ada sebuah puisi :

Prosa Kolaborasi dalam Puisi
Oleh : Edy Priyatna

Angin malam kerap mengibaskan
rambutmu jadi layarku
arungi samudera demi laut pertemuan kita
kerlingkan mata hingga tertutup
bibir tipismu turuti jiwa bergetar
menangkap rasa nan bergelora
dalam raga riakpun menepati janji
dia datang ke pantai ini
bersama jemari mengurai kembang, rambut tergerai lembut
serta bibir yang dahaga akan nyiur hijau
sekelebat hilang dalam pipa putih
dirimu seranum nyiur, diriku setajam sabit
begitu bisikan yang terdengar datang dari ujung laut
entah siapa……..

Kita balik kembali setelah lama ditinggalkan
orang-orang pinggiran yang acuh
tempat peraduan kasih kita
memadu rasa dan menyimpan duka kesejukan
yang terancam gelombang besar bergemuruh
tiba dari ufuk kasat penglihatan
yang menelan setiap tegak disisi lautan
membawa ikan-ikan berenang jauh
menggulung apapun yang ia inginkan
sehingga menghasilkan sepi
dan rasa sunyi yang senyap……….

Kita tak terpengaruh siang atau malam
tetap datang ke pantai nan selalu menyambut
emosi yang sama melumat ujung pangkal tubuh
menelan tumbuh kita memuntahkan seribu petaka
mungkin akan ada yang terlahir disini
bagai perompak laut berambut gimbal
berdoa memohon titipanNya
“Tuhanku……….tolong kirim titipan untukku……titipan yang cocok dengan emosiku……”
lalu berkata kecil, sesuatu tentang kebun indah dan musim semi
namun berubah bisikan tentang orang yang lari
menuju lautan yang menganga melumat sesaat…..

Kita tak pernah gelisah menggenggam tangan
bersama-sama melangkah menuju samudera
menentang prahara gelombang dahsyat
bagai bahtera jiwa diatas lautan luas
dengan badai ganas bergelora kalbu
memporakporandakan kerang dari titik yang dalam
hingga melarutkan sepi
karena rasa kasih yang membatu dihati
dalam ketenangan jiwa masih terdengar suara sayup-sayup
“…dimana suaramu, masih sirnakah?”
entah siapa……..

Kita akhirnya pulang meninggalkan pantai kelam
tanpa nyiur
tanpa bulan
tanpa bintang
tanpa sepi
tanpa sunyi
tapi dengan senyum dan dengan sinar
cerah dari tepi goresan pasir
putih lambang cinta kita
yang perlahan-lahan terhapus
ombak-ombak mengejar kita
menguap terbang kedalam jantung hati
saat mentari datang mengintip
kaupun tertunduk layu namun tetap gemulai
raut tampak sukacita kembali
ketika berbenah diri
ketika menyisir rambut
ketika mengusap mata
dalam melanjutkan perjalanan
waktu telah memainkan cinta kita…………..

sajak ini dipersembahkan khusus buat selingkuhanku
dan tim penggarap MPK Kompasiana.

(Edy Priyatna)
Pondok Petir, 10 Juni 2011

Sebuah paket parcel yang sangat indah yang telah aku miliki dihari kedua puluh dua bulan Ramadhan 1432 H. Akan menjadi sebuah kenangan yang amat mengesankan dan takkan pernah terlupakan di dalam hidupku.-

(Pondok Petir, 23 Agustus 2011)


Minggu, 21 Agustus 2011

[FSC] AKU SELALU RINDU

Kepada Ytc.
Kekasihku yang selalu cantik
Di rumah……..

Dengan penuh rasa cinta,
Sayang, setelah kita bertemu sebulan yang lalu, hari ini tiba-tiba aku merasa sangat rindu kepadamu. Kuharap dirimu baik-baik saja sama seperti diriku saat menulis surat ini. Aku jadi teringat ketika kita saling menikmati hangatnya api unggun. Malam itu kita bernyanyi gembira sambil membakar jagung cinta yang habis kugigit dan kulumat dihadapanmu. Hatiku kau sentuh oleh belaian tanganmu yang halus. Membuatku seolah mimpi indah nan cerah tanpa harus tidur seharian penuh. Kunikmati lincahnya gurauanmu tanpa bosan. Sehingga tak terasa malampun telah larut bersama keindahan nan dahsyat itu.

Kemarin…..
saat malam pekat telah larut
bersama rintik hujan tiada henti
semilir bayu nan sejuk dingin
telah melelapkan jiwa
menenangkan kalbu
menentramkan hati putihku
namun ketika rembulan mulai beranjak
menghilang dibalik awan kearah timur
tiba-tiba…..
aku terjaga dalam tidurku
terpana sekejap dalam kerinduan
kulihat dirimu tersenyum disampingku……..

Kekasihku, bagaimana kabarmu hari ini? Sudah dua minggu lewat saat surat terakhirmu kubalas dan kamu belum mengirim surat lagi kepadaku. Ingin rasanya kupergi mengunjungimu saat ini, namun tugasku di Desa rangkat ini masih belum selesai. Kadang dikala aku sedang sibuk, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan bersamamu menyusuri pematang sawah yang terbentang dikaki gunung yang indah ini. Agar kepenatan yang sering singgah di hatiku hilang bersama pelepasan rasa rindu. Semua itu telah membuatku selalu terjaga dalam tidur yang amat panjang.

Setelah senja bermega kelam
walau tanpa gemuruh
hening…….
tak ada angin
tak ada guntur
tak ada halilintar
tiba-tiba hujan merintik tajam
tiada henti……..

Lalu gerakku menjadi lengai
kaki bagai tak berpijak
langkahku yang tak searah lagi
mendadak terhenti
tak dinyana
kau jalan menghampiri
lepas kutanya makna rindu
tiada suara…..

Setelah malam larut bergerak
kendati tanpa bintang
hening…….
kumelangkah lagi tanpa berpaling
tiba-tiba jiwaku runggas
kini kutahu makna itu setelah aku jauh…………

Sayangku, aku tahu kamu marah padaku, tapi aku juga tahu kalau kamu rindu padaku. Ketika aku mengunjungi kotamu yang kini mulai kemarau, terasa panas saat siang hari namun amat dingin ketika malam tiba. Apapun alasanmu marah padaku kau selalu tetap dihatiku. Selama ini disetiap malam di desa tempatku bekerja saat ini, aku selalu merenung menatap langit dan di sana kulihat bintang rindumu bergermerlapan. Semuanya membuatku amat bahagia, karena terlalu banyak bintang yang bersinar di langit itu. Saat itu aku merasakan genggaman tanganmu yang lembut dan membayangkan wajahmu yang selalu menyejukkan hati.

Hembusan angin sendalu
di bawah hujan menderas tajam
saat ini……….
mengiring getar emosi
mengantarkan gelora renjana
nan teramat sangat……
adalah gumpalan rasa
berpacu dalam waktu
tiada tertahankan
aku rindu…………

Kasihku, aku ingin waktu ini berhenti saat kuhitung hari untuk kembali. Sungguh lama sekali rasanya kita berpisah. Bukan lagi sehari rasa seminggu tetapi sehari rasa berabad-abad yang harus kulewati. Namun aku selalu berusaha bersabar sehingga terlatih untuk senantiasa menikmati proses kehidupan yang fana ini dan kuingin selalu begitu selamanya. Aku juga berharap kamupun sudi sabar menunggu. Dua bulan lagi tugasku akan selesai di sini. Bila tiba saatnya, aku akan langsung menemuimu. Akan kucurahkan rindu yang telah kusimpan dalam kalbu ini. Untuk itu kirimkanlah kabar kepadaku. Janganlah marah kepadaku. Mungkin kamu dapat mengirimkan foto bunga yang kita tanam bersama di Yogyakarta. Tempat yang selalu mengangankan kebahagiaan di masa depan. Sungguh aku tidak sabar untuk segera melihat bunga itu bersamamu. Mudah-mudahan ada bunga yang bisa kupetik dan kupersembahkan kepadamu.

Saat pertama kali aku mendengar
ku rasakan hadirnya getaran hati
ku tak mengerti apa yang terjadi
ku amat tak berdaya........

Saat itu lalu aku melihat
ku sangat bahagia mengenalnya
ku ingin langsung memelukmu
ku sadar kendati terjadi........

Saat ini akhirnya aku hanya mendengarmu
entah apa jadinya hati ini
ku rasakan selalu gempa kalbuku
ku tak mengerti mengapa kerap terjadi
ku senantiasa tak berdaya
namun…..
ku selalu sadar adanya pengorbanan
ku selalu sangat bahagia
ku selalu ingin ini tetap berlangsung……..

Desa Rangkat, 13 Agustus 2011
Salam sayang selalu
Dari kekasihmu yang selalu rindu

Penulis : Edy Priyatna
No. Peserta : 249
Festival Surat Cinta

Malam Renungan Suci HUT Kemerdekaan RI Ke-66 di Desa Rangkat

Tepat pukul 23.00 WIB tanggal 16 Agustus 2011, semua warga Desa rangkat berkumpul di halaman Balai Desa. Mereka yang terdiri dari Bapak Kades Rangkat, Bu Kades Rangkat, Sesepuh Rangkat, RW Rangkat, RT Rangkat, Bu RT Rangkat, Sekdes Rangkat, Dalang Rangkat, Hans Sip Rangkat, Guru Rangkat, Pengamat Rangkat, Penari Rangkat, Bocing Rangkat, Kembang Rangkat, Penyair Rangkat, Calon Artis Rangkat, Pocong Rangkat dan seluruh warga Rangkat lainnya. Disana mereka melaksanakan acara renungan suci dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-66 yang dipimpin langsung oleh Bapak Kades Rangkat selaku inspektur upacara kehormatan dalam renungan suci tersebut.

Lalu tepat pukul 23.40 WIB, seluruh lampu di sekitar Balai Desa dipadamkan. Penerangan di sana hanya berasal dari tujuh belas buah obor. Bahkan, ketika pembawa acara membacakan panduan acara hanya diterangi dengan baterai kecil milik Hans Sip Rangkat.

Diawali dengan menyanyikan lagu Kebangsaan yang dipimpin oleh Sekdes Rangkat, seluruh warga melantunkan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat dan semangat. Kemudian tepat pukul 00.00 WIB dengan dipimpin langsung oleh Bapak Kades Rangkat mengheningkan cipta untuk mengenang dan menyatakan rasa hormat yang sebesar besarnya atas keiklasan dan kesucian para pahlawan yang telah memerdekakan negara republik Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan kepada jasa- jasa para pahlawan saat merebut kemerdekaan.

Setelah mengheningkan cipta, acara dilajutkan dengan wejangan atau sambutan Bapak Kades tentang arti renungan suci di Desa Rangkat ini sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada para pahlawan yang telah gugur, dalam menjalankan tugasnya, membela tanah air dari bangsa penjajah. Menurut Bapak Kades, bahwa kita semua wajib memberikan penghormatan sebesar-besarnya kepada pejuang atas pengorbanan dan jasa-jasanya. Akhirnya Bapak Kades pun mengatakan berjanji akan meneruskan perjuangan mereka bersama-sama warga Desa Rangkat.

Dalam kesempatan itu Bapak Kades memberi kesempatan kepada Sesepuh Desa Rangkat, Bapak Astoko untuk tampil di podium memberikan sekilas tentang sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia, sebelum acara itu ditutup dengan doa.

Kepada warga Desa Rangkat yang saya cintai……..
Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya……..
Salam sejahtera……..
Salam Desa Rangkat……..
Merdeka……

Sebenarnya saya tidak begitu tahu persis secara keseluruhan awal dari proses Kemerdekaan Republik Indonesia, namun ada beberapa yang saya ketahui tentang Kemerdekaan tersebut sebagaimana kita semua mengetahuinya. Kita semua tahu bahwa pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima di Jepang, oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Lalu sehari kemudian BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Bung Karno (Soekarno), Bung Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Syahrir memberitahu penyair Chairil Anwar tentang dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepang telah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah. Syahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika itu terlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda terutama para pendukung Syahrir.

Selanjutnya pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Lalu dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.

Sementara itu Syahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi dan bahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal mereka akan menggunakan kekerasan. Syahrir telah menyusun teks proklamasi dan telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.
Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan ‘hadiah’ dari Jepang.

Akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Kemudian Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong. Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol no. 1. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 malam 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan UUD yang sehari sebelumnya telah disiapkan Hatta.

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pengikut Syahrir. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

Kita tahu Peristiwa Rengasdengklok, Dimana para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka menculik Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, pagi hari di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor. Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Nah….begitulah cerita singkatnya proses Indonesia Merdeka, mudah-mudahan ini akan bermanfaat. Kiranya bila ada kata-kata yang tidak berkenan saya mohon maaf.
Akhir kata tak lupa dalam kesempatan ini saya ucapkan kepada warga Desa Rangkat yang melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa.
Merdeka….Merdeka….Merdeka!!!

Demikian sekilas tentang Kemerdekaan Indonesia yang mendapat aplaus dari seluruh warga Desa Rangat yang ikut memekikan kata Merdeka dan akhirnya acarapun ditutup dengan doa oleh Kang Hikmat serta diselesaikan dengan sebuah gita Kebangsaan ‘Syukur’.-

Semangat Hari Merdeka
Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
(Pondok Petir, 16 Agustus 2011)

INDONESIAKU (2)

Indonesiaku……..
tiga ratus lima puluh tahun kau dikuasai bangsa lain
tiga setengah abad kau ditindas,
tiga ratus lima puluh tahun kau diremehkan ..
tiga setengah tahun dikuasai bangsa yang lain lagi
tiga setengah tahun dipaksa mengikuti budaya yang lain
tiga ratus lima puluh tiga setengah tahun dijajah
tiga puluh dua tahun dikuasai bangsa sendiri
tetapi tetap maju……………..

Indonesiaku……..
tiada pernah merasa letih
tiada mengenal rasa lelah
tiada ada kata lesu
takkan pernah lusuh
takkan lagi lemah
tak akan menjadi layu
dan tak lekang oleh waktu……………..

Indonesiaku……..
senantiasa maju penuh kesuksesan
tak ada lagi penindasan
negeri nan pandai
tak ada lagi kebodohan
selalu penuh dengan kedamaian
tak ada lagi permusuhan
bangsa yang kaya
tak ada lagi kemiskinan
daerah yang indah
tak ada lagi yang kosong
tempat yang hebat
tak ada lagi keterbelakangan
semuanya telah dikuasai……………..

Indonesiaku……..
tiada lagi penindasan
tiada lagi kebodohan
tiada lagi permusuhan
tiada lagi kemiskinan
tiada lagi kelaparan
tiada lagi keterbelakangan
semuanya telah musnah
dilenyapkan oleh pejuang bangsa……………..

Indonesiaku……..
kini telah maju dan sukses
kini sudah pintar dan pandai
kini selalu ramai dan damai
kini menjadi kaya dan raya
kini sangat indah dan cantik
kini hebat dan canggih
selalu tetap maju ke depan
disukseskan oleh pejuang bangsa……………..

Indonesiaku……..
tiga ratus lima puluh tiga setengah tahun dijajah
dikuasai bangsa lain
lalu……..
tiga puluh dua tahun dijajah
dikuasai bangsa sendiri
kini……..
enam puluh enam tahun merdeka
kau telah dikuasai bangsa sendiri yang lain
tetapi tetap maju……………..

(Pondok Petir, 17 Agustus 2011)

INDONESIAKU

Untukmu aku menangis
pada sepi bersembunyi
sungguh hati jadi haru
tiada mampu
untuk melihat
bahkan mendengar
sungguh aku tak bisa

Ada darah yang mengalir deras
ada suara tangis menggema
ada rasa selalu mencekam
ada banyak korban yang jatuh

Tergambar dalam benak
semua kejadian dulu
ketika bambu runcing
dan senjata tajam
di tangan-tangan yang kecil
mengayun rentak
memporakporandakan mereka

Tiba-tiba saat terjaga
membuyarkan rasa
merubah keadaan
menambah kesedihan
terlihat langsung pada kasat mata
semua……..
teman-temanku
sahabat-sahabatku
saudara-saudaraku
menghancurkan bumi pertiwi

Mereka tunduk patuh
pada para penggoda abadi
sehingga……..
tanpa rasio lagi
tanpa pikir lagi
tanpa hati lagi
mereka merasa benar
berkuasa penuh dalam
satu tarikan pemicu
menyebabkan ribuan nyawa terkapar

Kembali aku menangis
kali ini tanpa air mata
membayang dalam benak
pada dua waktu bersamaan
tiada mampu
untuk melihat
bahkan mendengar
sungguh aku tak bisa

Terlihat dengan kasat mata
para pejuang datang
mereka telah kembali
dengan tanda janur kuning
dengan jiwa merah putih
berkata : “Aku ingin Indonesia merdeka sampai kapanpun!”

(Pondok Petir, 10 Agustus 2011)

SEJARAH BANGSA

Ada jalan menuju kediamanmu
selorong dekat perkampungan
di timur ada telaga
aku sempat rehat di tepi dan mandi……..

Di atas desa itu
tampak kau tersenyum
di pekarangan yang hijau
aku sambut cepat dengan berseri……..

Kini telah tiada tanah adat
sungai yang dulu benyanyi deras
tinggal genangan retak
sunyi gersang
tak ada lagi orang-orang
bermain disini
mereka pergi mencari
tempat bermain yang lain
di lorong-lorong jalan
di kolong-kolong jembatan
di pasar-pasar terminal
yang buat desa ini
menjelma kota sunyi……..

Ada jalan menuju kediamanmu
dahulu kala selorong dekat
perkampungan dan telaga di timur
tapi kini sunyi gersang
hanya ada gemuruh tambang
siang malam
bagai menjaga rembulan
mengusir mentari
dari jalan menuju kediamanmu……..

Kau tahu pertambangan itu
gemuruhnya benyanyi deras
perkampungan dan telaga luas
menjadi Sirna
seketika……..
tercebur lumpur
“Hancur leburlah masa depan kami”
kata suara kecil yang ketakutan

Aku mengenang-ngenang
suatu masa tentang raja penguasa
nan sakti
pada tongkatnya
dengan hanya menunjuk
dapat meraih tempat
membajak sawah orang
menindas……..

Kata dalam hikayat
sang raja penguasa adalah penyayang
entah kepada siapa
lalu dengan tongkat
dia berputar deras
maka keluarlah kekayaan bumi
lumpurpun meluap
rakyatnya sekarat melarat……..

Kata dalam hikayat
waktu terus meluncur
lumpur terus menjulang
raja penguasa menghilang bersama tongkatnya
perkampungan……..
desa……..
telaga……..
menjadi rata
gemuruhnya mencekik rakyat

Kini kutahu beritanya
dari buku sejarah bangsa

(Pondok petir, 09 Agustus 2011)

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66