Pada lintas selanjutnya
melewati pulau perkampungan
ada gangguan yang mengusik dalam angan
saat serangan menerjang dalam badai
adalah cara hidup alami
tak mudah dapat terbayangkan
asa-asaan pada ikhtiar dan keyakinan
Dibawah sorot matahari, kita bernaung
diatas badai kita bertahan
di dalam sebuah kehendak dan keyakinan
Suasana itu laksana kapal berlayar
tak mudah dapat terbayangkan
tak akan pernah tahu
ada ombak menghamtam
saat badai menerjang
tetap berpikir dalam benak
hanya berlayar dan berlayar
hingga ke negeri impian
Pada ikhtiar dan kehendak
harus dalam keyakinan
bahwa Dia senantiasa ada saat dibutuhkan
(Pondok Petir, 02 Oktober 2011)
Rabu, 05 Oktober 2011
Selasa, 04 Oktober 2011
PERJALANAN 7
“Perpisahan bukan ujung perjalanan”
kata hati ketika terhenti
Tanpa peduli apapun
kaki ini terus melangkah
melewati bukit kesedihan
meninggalkan jurang penyesalan
melalui rintangan sunyi
hingga menciptakan kasih
kembali menanti hidup sejati
Tanpa terasa apapun
langkah terus menjadi lelah
memerlukan pondok\teduh
alas penuh kerindangan
mengisi energi terbuang
pada cinta yang tersimpan
menyongsong masa depan
“Perjalanan harus diteruskan……..”
kata hati ketika terhenti
(Pondok Petir, 01 Oktober 2011)
kata hati ketika terhenti
Tanpa peduli apapun
kaki ini terus melangkah
melewati bukit kesedihan
meninggalkan jurang penyesalan
melalui rintangan sunyi
hingga menciptakan kasih
kembali menanti hidup sejati
Tanpa terasa apapun
langkah terus menjadi lelah
memerlukan pondok\teduh
alas penuh kerindangan
mengisi energi terbuang
pada cinta yang tersimpan
menyongsong masa depan
“Perjalanan harus diteruskan……..”
kata hati ketika terhenti
(Pondok Petir, 01 Oktober 2011)
MALAM
Senantiasa datang pada belahan
saat mentari tenggelam
ketika bumi berputar
menghalangi sinar surya itu
memberi batasan dibalik kehidupan
hingga menghujani hitam kelam
menjadikan sebuah waktu gelap
membuat diriku……..
harus menciptakan tidur
yang amat indah
lalu terlelap dalam mimpi
sehingga menerangi jiwa dalam kegelapan
(Pondok Petir, 30 September 2011)
saat mentari tenggelam
ketika bumi berputar
menghalangi sinar surya itu
memberi batasan dibalik kehidupan
hingga menghujani hitam kelam
menjadikan sebuah waktu gelap
membuat diriku……..
harus menciptakan tidur
yang amat indah
lalu terlelap dalam mimpi
sehingga menerangi jiwa dalam kegelapan
(Pondok Petir, 30 September 2011)
[FF] SAHABAT BENING
Cermin : Edy Priyatna
(Pondok Petir, 29 September 2011)
Pada sebuah pantai yang gersang di sore hari seorang pemuda duduk terdiam disebuah batang pohon usang, memandangi ombak yang datang dan pergi. Wajahnya murung lesu dirundung kesedihan. Sementara itu dikejauhan ada seseorang yang mengintai sambil berusaha menghampirinya.
“Hidupku seperti ombak…,” kata pemuda itu ketika dia tahu kalau ada yang datang mendekatinya. Lalu ia melanjutkan kata-katanya sambil menundukkan kepala, “…..ombak itu selalu ingin menepi, tetapi pantai selalu mengusirnya kembali.”
“Tenanglah, Ron. Aku yakin pasti ada jalan keluarnya.”
“Bagaimana caranya, Ning? Seorang pengamen jalanan yang putus sekolah sepertiku bisa membiayai operasi bunda yang terbaring lemah karena kanker payudara?” katanya lemah.
“Sekali lagi. Janganlah pernah berputus asa, Ron. Di bumi ini masih ada orang yang mau membantu orang lemah seperti kita. Masih ada yang peduli, hanya saja mungkin mereka belum tahu keadaan ibumu. Aku yakin kita akan menemukan sosok malaikat penolong di antara mereka,” kata Bening dengan penuh semangat. Sudah tiga hari ini Bening selalu berusaha untuk memberi semangat kepada Roni dan hingga hari ini masih belum mengena. Bening juga sudah berusaha memberitahukan semua sahabatku yang lain tentang masalah itu. Bening sangat berharap kata-katanya itu mampu menenangkan hati Roni sahabatnya.
“Terima kasih ya Ning……..,” sahut Roni tiba-tiba. “Kaulah yang selalu membangkitkan semangatku di saat-saat seperti ini. Kau sahabat terbaik yang pernah aku kenal, Ning!” lanjut Roni dengan senyum. Roni menatap mata Bening dan dia merasakan hari ini mata itu terlihat semakin bening.-
Senin, 03 Oktober 2011
HASRAT
Ketika langit mengukir gelap
berhias lembayung diufuk sana
kurasakan hentakan malam menyelimuti
menghitamkan relung kalbu
pada langit kukatakan
pada malam kedongengkan
betapa sarat hati ini berisi ingin
betapa penuh jiwa ini tertanam angan
namun kurasakan hitamnya dinding itu
yang panjang membentang
hingga aku tak dapat memelukmu……..
(Pondok Petir, 28 September 2011) ft.BCJ
berhias lembayung diufuk sana
kurasakan hentakan malam menyelimuti
menghitamkan relung kalbu
pada langit kukatakan
pada malam kedongengkan
betapa sarat hati ini berisi ingin
betapa penuh jiwa ini tertanam angan
namun kurasakan hitamnya dinding itu
yang panjang membentang
hingga aku tak dapat memelukmu……..
(Pondok Petir, 28 September 2011) ft.BCJ
KALBUKU MENJELANG SENJA
Merah jambu itu
terhampar nyata indahnya
terlukis tegas garisnya
menghias kaki bukit hijau
pelengkap kuning putih ungu
tak nampak mendung di langit
bahkan mengurat awan tipis
melayang membawaku ke bukit itu
hingga tiba di langit biru……..
(Pondok Petir, 26 September 2011) ft.BCJ
terhampar nyata indahnya
terlukis tegas garisnya
menghias kaki bukit hijau
pelengkap kuning putih ungu
tak nampak mendung di langit
bahkan mengurat awan tipis
melayang membawaku ke bukit itu
hingga tiba di langit biru……..
(Pondok Petir, 26 September 2011) ft.BCJ
Langganan:
Postingan (Atom)

