Jumat, 14 Oktober 2011

KOMODO


Bersandar pada sebuah nusa putih
kesunyian tidur dibalik belukar
langkah-langkah tegap merayap
menyusuri seluruh pantai
tak dapat mengusik penghuni


Ketika sepi menyanyi warna hitam
munculah dengan melata seekor naga
langkah-langkah tegap menyergap
ombak meriak peluru menghujam
langsung mengusik jantung


Hidup mencari ilmu membawa mayat
dari timur hingga ke barat
langkah-langkah tegap menatap
singgah bersimpuh di kota hujan
pulau keajaiban duniapun telah ditemukan

(Pondok Petir, 15 Oktober 2011)

[FF] MALU TAMPIL PADA ULANG TAHUN RANGKAT

Cermin : Edy Priyatna

Setiap ada kegiatan yang khusus di Desa Rangkat, aku tidak pernah absen untuk mengikutinya. Pada syukuran hari ulang tahun desa yang Pertama di Villa LACITRA Desa Rangkat, aku dengan sigap membantu menyukseskannya termasuk mengatur acara yang telah menjadi kebiasaan disana. Dimana semua warga desa diwajibkan tampil ke depan podium untuk menyampaikan kesan dan pesan selama menjadi warga desa. Hal itu merupakan sebuah keunikan tersendiri yang ada di Indonesia dan hanya ada di desa ini. Mulai dari Kades Rangkat berserta perangkat desanya hingga RW, RT dan Hansip serta semua warga masyarakat desa tampil dengan gayanya masing-masing.

Sudah dua kali acara unik itu dilaksanakan. Dari seluruh warga yang hadir, ada satu orang tetanggaku yang selalu menghilang ketika acara itu dimulai. Arifin Basyir namanya, dia sebenarnya warga desa yang sangat rajin. Bahkan oleh Bu Kades dia telah dijuluki ‘tukang ngurus sapi’ desa yang hebat.

Setelah aku selidiki ternyata dia itu orangnya minder. Sehingga pada saat acara ulang tahun tersebut dimulai aku berusaha menjaganya agar tidak menghilang. Kemanapun dia pergi aku selalu mengikutinya. Bahkan saat dia pergi ke toilet, aku tetap menjaganya hingga dia keluar.

Ketika tiba giliran maju ke podium, Arifin dipanggil oleh pembawa acara Jingga dan Ibay. Namun dia sempat tidak bersedia berdiri dari bangkunya. Sementara semua warga memberi aplaus dan semangat. Lalu setelah aku membujuknya diapun bersedia tampil dan langsung aku mengantarnya naik ke atas panggung. Diatas panggung dia tersenyum dan cukup lama berdiam sambil berdiri.
“Hmm……..sebenarnya besar kemaluan saya berada di depan teman-teman semua tetapi karena didorong-dorong akhirnya berdiri juga…,” kata Arifin dengan lugu. Seluruh warga desa bersorak gembira pada saat itu. Akhirnya acara syukuran itupun berlangsung dengan sangat meriah dan luar biasa.-

(Pondok Petir, 08 Oktober 2011)

Kamis, 13 Oktober 2011

BERUSUH HATI

Hentakan kepalan tanganku pagi ini
memicu benak pikiran geram
terhadap layar reportase subuh
pada para pemimpin rakyat
yang senantiasa berulah aneh
menjadikan orang-orang terjaga
berlagu bagai badut penghibur
membuat penonton berduka tanpa ketawa

Hentakan kepalan tanganku siang ini
menggores pena-pena hitam
pada daun-daun kekeringan
mengacak buah semangat
meracik kata-kata menjadi kalimat resah
dalam baris-baris sajak keras
yang telah koyak diremas hati
karena tak pernah menjadi jiwa

Hentakan kepalan tanganku malam ini
telah mengoncangkan hati
bersamaan gempa yang terjadi pada hari ini
mencatat dengan nyata tindakan para pejabat
yang menimbulkan banyak data
”kemarin ratusan petani telah dirugikan…”
”kemarin ribuan penduduk kehilangan rumah…”
”kemarin jutaan rakyat dicuri pulsanya…”
”kemarin semua rakyat dirampok para pejabat…”
semua meresah-gelisahkan pemimpin

Hentakan kepalan tanganku
telah membius lentik kelopak mataku
hingga tak dapat ditutup

(Pondok Petir, 07 Oktober 2011)

Senin, 10 Oktober 2011

PELANGI

Hari ini aku rindu warnamu
datanglah ke pondokku segera
lama sudah tak ada kesejukan
bagai menanti sunyi di tengah kota
setiap hari cerah benderang
walaupun tanpa bintang
karena matahari telah murka
panasnya telah membias kembali
tak terhalang mega hitam
sehingga langit bergaris putih
matanya kering tak berair lagi........

Sekarang ini aku sangat rindu warnamu
kapankah kau akan tiba
sementara lama namamu
kerap dipanggil di tengah desa
warnamu kini terjatuh di bumi
merahmu ada di tanah kering
kuningmu ada di daun usang
hijaumu ada di batu karang
sebab mentari tak dapat melukismu
sehingga hilanglah semua
keindahan dan kesuburan........

Setiap hari aku selalu mengharapkanmu
karena sudah lama hujanpun tak pernah datang........

(Pondok Petir, 06 Oktober 2011)

PERJALANAN 9

Dalam kesendirian aku melangkah
pergi ke sudut ruang suci
mencari sesuatu yang hilang
entah apa aku tak tahu........
rasa itu datang menghampiri
menelusuri jalan kejujuran
gelora kalbu tak bersahabat
gelombang jiwa acap berkehendak

Tak ada hujan yang turun
tak ada angin yang menyebar
semua tak dapat kutolak
keringat terus mengalir deras
membanjiri hati kering
hingga menimbulkan jamur kerinduan
tanggapan indra yang tak bertepi........

Kau selalu hadir
tak berbekas nyata
dalam hening kesunyian
namun senantiasa tergores
pada lembar-lembar daun kering
yang tersimpan dalam detak jantung

Kini aku terus menata ruang
menyusun rapi semua anganku
dalam lemari kasih yang besar
di laci-laci putih yang bersih
agar jiwa menjadi sejuk dan damai

Ketika kulihat langkahku
bertanda pada ruang
yang pengap itu
tiba-tiba........
angin menyapa berbisik
meyakini........
peluhpun menyapu jejak luka........
lalu kutitipkan semua ketulusanku........


(Pondok Petir, 05 Oktober 2011)

Kamis, 06 Oktober 2011

[FF] KETINGGALAN

Hari telah sampai pada waktu fajar ketika Rizal berlari-lari kecil menuju ke rumahnya. Ia terlihat sangat terburu-buru sekali untuk segera memasuki rumahnya. Ketika sudah berada di depan pintu rumahnya ia menekan bel berkali-kali. Namun belum ada juga yang datang membukakan pintu itu. Lalu ia mencoba dengan menggedornya, tetapi masih belum juga ada respon. Kemudian dia berjalan ke samping rumah di sebelah sebuah pohon jengkol dia buang air kecil sambil berdiri.

Sebenarnya Rizal tidak biasa buang air selain di kamar mandi atau toilet rumahnya sendiri, apalagi buang air besar. Baru kali ini ia terpaksa melakukannya di halaman rumahnya. Ini suatu kebiasaan yang aneh. Bahkan karena sudah menjadi kebiasaan seperti itu, ia pernah buang air besar di rumah temannya ketika tiba-tiba perutnya terasa mulas dan ia ingin buang air besar. Namun setelah dia berada dalam kamar mandi tidak keluar secuilpun.

Setelah Rizal merasa lega karena telah mengeluarkan hajatnya, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia langsung berlari sekencang-kencangannya menuju kearah pada saat dia datang. Tanpa berhenti ia berlari melewati jalan yang panjang, perkampungan sunyi. Tak lelah berlari dalam kegelapan hingga melalui beberapa perempatan di lintasan yang belum ramai pada saat itu. Dalam pelarian yang sangat tergesa-gesa itu sempat mengundang perhatian seekor anjing sayur yang kebetulan sedang terbangun di tepi jalan menunggu mangsa datang. Anjingpun langsung ikut mengejar Rizal, namun karena tahu dikejar ia lebih meningkatkan lagi kecepatan berlarinya. Sehingga anjing tersebut tertinggal jauh dan langsung kembali ke tempat semula.

Akhirnya dengan nafas yang tesengal-sengal Rizal tiba juga di rumah yang dituju. Ketika sudah di depan pintu ia langsung menggedor-gedor pintu rumah itu. Cukup lama juga ia menunggu sipemilik rumah keluar.
“Siapa di luar?” tanya seorang wanita dari dalam rumah.
“Saya Rizal…..” sahut Rizal dengan suara agak pelan.
“Siapa??” tanyanya lagi.
“Rizal, mbak….!” Jawab Rizal dengan keras.
Tak lama kemudian wanita itu membukakan pintu rumahnya.
“Ada apa?!”
“Celana dalam ketinggalan……..”

(Pondok Petir, 04 Oktober 2011)

Rabu, 05 Oktober 2011

PEREMPUANKU

Ketika kau datang hingga pertemuan itu terjadi
aku hampir tidak percaya
sungguh nyata adanya
sosok sederhana
luar biasa

Kau indah namun tak dapat diraih
kau cantik tapi tak bisa dipegang tak bisa diraba
kau menawan buah pikiranku selalu erat dalam pelukan
bersama langkah tegapku menyusuri belantara disaat mata terlelap
menyoroti bayangmu seperti tak pernah lenyap dari layarku yang lebar membentang

Lalu kukembangkan sayapku terbang tinggi keatas awan melayang menciptakan puisi langit menggoreskan cermin mega membentuk prosa cakrawala meniti makna pelangi melewati mentari menyongsong senja meneropong bintang menikmati rembulan menelusuri jiwa mengungkapkan rasa tersembuyi dibalik hati nan suci luapkan cinta putihku nan sejati

(Pondok Petir, 03 Oktober 2011)