Kamis, 03 November 2011

MELEPAS SENJA

Raga ini mulai ringkih
setelah melangkahkan kaki
pada malam tak bergairah
kemudian……..
dibiarkannya langit hitam nan kosong
daun-daun tak bersuara
ketika datang hampa udara
menunda turunnya hujan
dibiarkannya lembar goresan beku
dengan setangkai pena kaku
tertulis tajam dalam sajak
menusuk dada yang sesak
dibiarkannya matahari melumat tubuh
memancarkan cahaya sinar
yang melepaskan isi jiwa
sambil menghitung dengan pasti
panggilan yang mampir di ruang diri
padahal kematian bukan sekedar kepindahan

(Pondok Petir, 21 Oktober 2011)

KEPADA DESA RANGKAT

Bangunlah dengan semangat kebahagiaan
lupakan keresahan-keresahan
bercahayalah dengan keseimbangan
cerahlah dengan senyum matahari
berawan putih di langit biru
berpadi kuning di sawah hijau
di tanah merah berlapis coklat
lapisi abu-abumu dengan jingga
lalu hujanlah untuk melepas segala kerinduan
keindahan hati…..
kesejukan ruang……
kedamaian jiwa…….
keramaian desa……..

Hari-hari telah lewat walau perlahan tapi amat pasti
kenangkan pertemuan-pertemuan
simpanlah dengan rasa kasih
sayangilah dengan cinta suci nan abadi
berkesan indah di dalam sejuk
berpesan damai di dalam ramai
di atas segala bentuk isi jantungmu
kibarkan bendera semangat
lalu beningkan mata airmu untuk kebersamaan
sahabat sehati………
sahabat seruang……….
sahabat sewaktu………..
sahabat sejati…………

Hari ini adalah lembaran baru bagimu
jejak langkah-langkah mulai tertanda lagi
akan ada banyak pelangi yang menghiasi sawahmu
senantiasa memberikan nikmat para petaninya
perkenankanlah aku menuturkan goresan hati
semangat ulang tahun……..
tolong catat dihatimu
aku juga penanam di desamu

(Pondok Petir, 20 Oktober 2011)

TANAMAN KORUPSI

Dari akar-akar kemunafikan pada lembaga keserakahan syaitan pasti akan melahirkan tunas kejahatan memberi kesempatan batang berkarat menggantung dahan bergelimang debu tumbuhkan ranting getas nan kotor merangkai tangkai lunglai bergetah membuat daun-daun hijau menjadi hitam kembang-kembang merah menjadi kuning kerap disirami airmata putih insan jelata hingga membiru berbunga dusta menghasilkan buah dosa-dosa.

(Pondok Petir, 18 Oktober 2011)

PULANG KE DESA

Setelah waktu tersisihkan
pada semua kenangan manis
dan semua pahit yang hinggap
kusapa semua sahabat tercinta
hanya karena sahabat aku duduk
menanti di saung sawah yang hijau
menanti semua semangat yang datang
membuatku kembali menulis catatan puisi

Hari ini sengaja aku ungkapkan
pada semua yang selalu menyapa
dan memberikan warna kegembiraan
karena pantas untuk diabadikan
kau sungguh sangat luar biasa
kau telah amat banyak berbagi
kau selalu ingin menemani
sementara aku hanya seorang yang biasa

Setelah waktu itu datang
maafkanlah telah meninggalkanmu
kirimkan doa untuk keselamatan
seperti yang aku lakukan untukmu
ijinkan aku pulang dalam nyata
pada semua yang pergi menyalami
pada semua yang tiba mengasihi
besok aku akan berangkat
pulang ke desaku yang indah
yang penuh kedamaian
yang senantiasa sejuk
yang kini mulai ramai……..

(Pondok Petir, 19 Oktober 2011)

SEMU

Kaki telanjangku telah menapak bukit
terjalnya bukit hatimu
matamu memandang seolah mendorongku
untuk terus melangkah
rintangan menghadang trip melelahkan
nan penuh onak dan duri-duri
tekadku tetap semangat
tak akan pernah menyerah
dari manapun…
sampai kapanpun…
walaupun aku tak tegas melampauinya
walaupun kau tak tega menghendakinya

Namun aku tahu bahwa kau telah tahu
datang rasa resah menghantui
sedetik terluput oleh gundah gulana
dalam keraguan kegelisahan kalbu
mulut mulai kelu
gerakan mulai lamban
langkah mulai terhenti
tak sampai niatan hati
karena ada yang tiba dibelakangmu…..
karena ada yang lain menantimu di kaki bukit…..
aku adalah bayang-bayang
kasih sayang semu yang nyata………

(Jakarta, 13 Oktober 2011)

BERITA PETANG

Dari belahan bumi paling murni
di lahan tandus tak dendam
di antara partikel-partikel basah
banyak orang kehausan
menanti tibanya sukacita
bagi sebuah kesumat yang tertunaikan
dari darah yang mengalir di ujung timur

Sementara……..
di ujung yang satunya lagi
di lahan subur yang pernah terendam
di antara kesunyian-kesunyian kering
banyak orang berhamburan
karena didatangi gempa lima
dari getaran Sinabang Tapaktuan di baratdaya

Lalu……..
di belahan lainnya
di balik belahan dunia
orang-orang desa mendirikan pagar keresahan
menyusun kerangka kebencian untuk diledakkan
di pusat kota tempat para penggerak daya

Kemudian……..
di belahan lainnya lagi
di balik ujung yang satunya lagi
para penonton terus menoton dan ditonton
menyaksikan perdebatan seru masalah satu kata.

Akhirnya……
di sini
di lapak puisi ini
kita hanya dapat meraba dan membaca saja
namun tak bisa berkaca

(Pondok Petir, 17 Oktober 2011)

KOMODO

Bersandar pada sebuah nusa putih
kesunyian tidur dibalik belukar
langkah-langkah tegap merayap
menyusuri seluruh pantai
tak dapat mengusik penghuni

Ketika sepi menyanyi warna hitam
munculah dengan melata seekor naga
langkah-langkah tegap menyergap
ombak meriak peluru menghujam
langsung mengusik jantung

Hidup mencari ilmu membawa mayat
dari timur hingga ke barat
langkah-langkah tegap menatap
singgah bersimpuh di kota hujan
pulau keajaiban duniapun telah ditemukan

(Pondok Petir, 15 Oktober 2011)

Ayo kita dukung Pulau Komodo…..Ketik Komodo kirim ke 9818