Rabu, 31 Agustus 2011

MAAFKAN AKU (2)

Maafkan aku……..
bila selama ini aku tidak dapat
menjadi kekasih
yang amat baik buatmu
untuk lebih tenang
untuk lebih sejuk
untuk lebih nyaman
kelihatannya……..
akan lebih tenang
akan lebih sejuk
akan lebih amat baik
jika kita tak bersama lagi

Maafkan aku……..
bila selama ini kita tidak bersama lagi
menjadi kekasih
yang tak berwujud
agar lebih tentram
kelihatannya……..
akan lebih baik lagi
jika kita saling memaafkan

Maafkan aku……..
bila sajak ini mengusik
hatimu kekasih
sejak kata tergores
hingga selesai tertulis
bahkan telah berkali-kali dibaca
hati itu masih tetap ada……..

Maafkan aku……..
bila hari ini masih berkata lagi
padamu kekasih
karena hari ini
adalah hari yang amat fitri……..

(Pondok Petir, 31 Agustus 2011)

Semangat Iedul Fitri 1 Syawal 1432 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Taqobbal Allahu Minna Waminkum Wataqabbal Ya Karim
Semoga Amal Ibadah Kita Semua Diterima Allah SWT.
Amin YRA.

Selasa, 30 Agustus 2011

KEMBALI KE FITRAH

Ketika rembulan mulai tampak
malampun cerah benderang
dihiasi cahaya seribu bintang
diiringi gema berjuta takbir
suara-suara insan teladan
penerima rachmat
nan meraih pengampunan
masuk ke area pembebasan
kebesaran Sang Pencipta

Saat mentari mulai tiba
melewati waktu subuh
dihiasi daun berkilau embun
diiringi gema berjuta takbir
suara-suara para pemenang
yang sujud memohon ampun
serentak di padang suci
tanah nan lapang milik
kebesaran Sang Pengasih dan Penyayang

Setelah matahari naik mengambang
sinarnya menyoroti punggung putih
kupohonkan jiwa kembali
nan suci seperti semula
untuk saling memaafkan diri
ikhlas kepada sesama
guna tunduk dan patuh
pada kebesaran Ilahi

Ketika rembulan mulai tiba
mentaripun mulai tampak
setelah disinari seribu bintang
saat gema takbir berkumandang
tiada yang lebih bermakna
selain membuka pintu hati
yang ikhlas bagi semua

Selamat Hari Raya Idul Fitri
mohon maaf lahir dan bathin……..

(Pondok Petir, 30 Agustus 2011)

Senin, 29 Agustus 2011

PERBEDAAN

Menunggu datangnya rembulan
yang dinanti dunia saat ini
meresahkan……..
mendebarkan……..
menyedihkan……..
namun dalam kesedihan ada kegembiraan
setiap pertemuan pasti ada perpisahan

Menanti tibanya bulan
yang menentukan kali ini
membingungkan……..
mengharukan……..
menggelisahkan…….
tetapi dalam kegelisahan ada kebahagiaan
setiap perbedaan pasti ada hikmahnya

Menunggu kepastian sabit
yang telah ditetapkan hari ini
meresahkan jiwa
mendebarkan hati
menyedihkan diri
membingungkan rasa
mengharukan kasih
menggelisahkan kalbu
merubah semua sikap
memperkaya ilmu
menambah nikmat tiada henti

Subhanallah……..
semua itu adalah sebuah rachmat…………….

(Pondok Petir, 29 Agustus 2011)

Minggu, 28 Agustus 2011

KITA INI APA?

mengapa telur?
bukan ayam
mengapa kacau?
bukan aman

mengapa kemarau?
bukan penghujan
mengapa panas?
bukan sejuk

mengapa merah?
bukan hijau
mengapa kisruh?
bukan damai

mengapa jahat?
bukan baik
mengapa sepi?
bukan ramai

mengapa sakit?
Bukan sehat
mengapa miskin?
bukan kaya

mengapa bangun?
bukan tidur
mengapa susah?
bukan mudah

mengapa udara?
………………………
tak ada udara
kita ini apa?

(Pondok Petir, 24 Agustus 2011)

PULANG (MUDIK)

Bunda……..
apa kabarmu kasih
sejak kejenuhan mulai karam
pada dinding langit
rongga jantungku
rintih terbentur kemauan diri
telah memusnahkan rasa kerinduan

Bunda……..
angan-angan yang kubisikan
ditelinga rapuhmu
tentang indahnya sawah di tempat rantau
hanya gambaran lagu simpony
agar kau bisa terlelap
tanpa lukaku dikepulasanmu

Bunda
bila kesedihan telah merasukmu
maka lontarkanlah marahmu
selaksa kau menyalin diriku
agar sukmaku terjaga
sadar dari segala perih
karena doa berakhir pada takdir

Bunda……..
bila kerinduan menjadi kesejukan
rendamlah sukmaku bersama detak
ritme kehidupan
yang selalu mengejarku
untuk segera menjumpaimu
menjadikan dosa yang pasti diampuni

(Pondok Petir, 23 Agustus 2011)

[FF] BISAKAH KITA SEGERA MENIKAH?

Pada suatu kesempatan di sebuah pertemuan Rizal terlihat berusaha mendekati Kembang. Besar rasa cintanya, dia telah mengikuti aroma yang lain dari pada yang lain. Tetapi sepertinya Kembang langkahnya setengah berlari-lari kecil ketika dia diam-diam bergeser menjauhinya. Sungguh lembut perawakan Kembang dalam bergaul, dia selalu berusaha untuk tidak menyakiti semua yang ingin mendekatinya. Tak terkecuali Rizal yang senantiasa tiada pernah habis-habisnya berupaya hingga titik darah penghabisan.

Ketika Rizal sedang mengambil minuman ringan yang disediakan dalam pertemuan itu, dia melihat dan mencium aroma yang tidak asing. Ternyata tidak jauh dari tempat itu Kembang sedang berbincang-bincang dengan Acik, Asih dan Jingga. Akhirnya Rizal dapat menemukan tempat pelarian Kembang (hehe…ini terinspirasi dari kasus M Nazaruddin).

Kembangpun tak dapat menghindari ajakan Rizal untuk pergi ke taman belakang dekat pos ronda Desa Rangkat. Di taman tersebut terdapat bangku panjang menghadap danau yang hijau sejuk. Mereka berdua akhirnya duduk di bangku itu. Kedua insan tersebut saling berbincang serius tanpa ada yang menggangu. Rizalpun menggunakan waktu yang baik itu untuk menyatakan cintanya sekaligus mengajaknya menikah.

Tak lama kemudian terdengarlah teriakan orang memanggil. Ternyata Mas Hans Sip Rangkat telah memanggil Rizal mengajak untuk nonton televisi di pos ronda. Katanya ada film kartun bagus yang harus ditonton oleh mereka berdua. Akhirnya karena penasaran Rizal dan Kembangpun bergegas menuju pos ronda. Disana mereka melihat ada sebuat film kartun tentang seekor kuda yang sedang jatuh cinta pada pasangannya. Dalam film Kuda tersebut benama Rizal sedang terlibat percakapan dengan kekasihnya Kembang. Wah ini sangat menarik menurut Rizal, pantas saja Mas Hans Sip teriak-teriak memanggilnya. Koq bisa ya?

Menjelang akhir perbincangan, Rizal bertutur kepada Kembang,
“Tidak bisakah engkau melihat, aku ini adalah pria yang gagah. Tubuhku berotot, dan tak ada satu pun yang mampu menandingi kecepatanku dalam perlombaan lari. Tidakkah engkau ingin menikah dengan pria seperti aku?”
Kembangpun hanya menjawab dengan santai,
“Tidak bisakah engkau melihat, engkau adalah seekor kuda sedangkan aku adalah seekor jerapah….”
Akhirnya film kartun itupun tamat.-

(Pondok Petir, 25 Agustus 2011)

[ECR] PERJALANAN DEVI (Nunil 1)

Sudah lima belas menit aku berdiri di terminal Giwangan. Saat itu waktu telah menujukkan pukul 15.00 WIB. Pesan singkat yang aku kirimkan belum pula ia balas. Aku pun bingung. Kuputuskan saja untuk tetap menunggu di sini. Toh kami sudah berjanji akan bertemu di sini tepat pukul tiga petang. Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke handphone yang sedang aku genggam. Ternyata dari dia. Yah, baru berangkat dari kos. Wah alamat lama aku menunggu. Biarlah… Aku keluarkan sebuah buku dari tasku. Sekedar mengisi waktu daripada hanya diam menunggu.

Tanpa terasa sudah sembilan prosa dalam buku antalogi karya MPK yang telah kubaca ketika sosok itu muncul dengan senyumnya di pintu masuk terminal. Walau tersenyum, tetap saja masih tergurat aura kesedihan. ”Ah, siapakah laki-laki bodoh itu yang meninggalkan perempuan semanis dirimu”, tanya dalam benakku.
”Sudah lama nunggu mas Bowo?”, itulah kata pertama yang meluncur dari bibirnya.
”Ya…, sejak aku kirim sms tadi. Koq sudah sampai, memang kosmu dimana? Bukannya Jl. Magelang?”, jawabku.
”Semalam Devi menginap di tempat teman mas. Cari suasana baru.”
”Ohh…”, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

Kami pun akhirnya berjalan menuju tempat angkot. Kami putuskan untuk segera menuju Kampus. Memang hari itu dia berjanji untuk mengantarkan aku untuk mengelilingi Kampus. Ya…, sekedar alasan agar aku bisa berjalan-jalan dengannya. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di angkot. Sesekali aku hanya mencoba mencuri pandang ke arahnya. Ah…, ternyata hanya sampai sejauh itu keberanianku. Yang seketika merasa menjadi seorang pengecut.

Akhirnya kami sampai juga di Kampus IMY. Kampus yang cukup asri. Pohon-pohon besar ada di sana-sini. Aku langsung merasa nyaman. Suasana yang tak jauh berbeda dengan suasana kampusku. Perjalanan kami mulai dari fakultas tempat ia melanjutkan studinya, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Kemudian kami menyusuri area Kampus sampai ke Fakultas Kedokteran dan akhirnya kembali lagi di Kompleks Fakultas ISIP.

Hingga akhirnya ngabuburitpun mendekati waktu berbuka puasa. Lalu kami putuskan untuk berbuka di kantin yang ada dekat kampus. Menu yang kupilih, nasi gudeg opor ayam, kolak plus es teh manis. Dia hanya memesan kolak dan minuman saja.
”Lho kamu nggak makan?” tanyaku.
”Nggak, Mas. Aku lagi malas makan.”
”Lalu kapan makannya?”
”Kalau lapar bangetz nanti jam sepuluh atau pas sahur ajah.”
”Wah, hati-hati sakit lho…” tanpa sadar aku perhatian.
”Iya mas……”
”Sepertinya kamu terlihat pucat, Dev…”
”Ah Devi nggak apa-apa koq mas…,” jawabnya sambil berusaha mengembangkan senyum. Namun masih saja kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Masih sangat jelas.
Seandainya aku boleh dan bisa menghapus sedih yang ada di dirimu. Apapun caranya, pasti akan kulakukan. Akupun semakin penasaran, laki-laki seperti apakah yang tega membuatmu seperti ini……

(Pondok Petir, 24 Agustus 2011)