Kamis, 03 November 2011

KISAH CINTA LADANG KENANGAN

Oleh : Edy Priyatna + Selsa Rengganis (No.250)

Masih ingatkah kau kekasihku
saat kita cengkrama di ladang tebu selepas sore
riang temani gelak canda
berpadu dalam pendar kemilau jingga
syahdu tersibak kuncup bunga tebu yang melambai
sang senja merambat menemui cintanya pada malam
dan rembulan hadir memayungi kita
dirimu mendekapku dalam rengkuhan gelora
membaur bersama pacu detak rindu
berpagut dalam buaian purnama yang mulai menyembul
semesta menjadi saksi ikrar penyatuan rasa……..

Dimanakah kini kau kekasihku
saat ini aku sedang berada di ladang tebu itu
sendiri hanya ditemani senja
yang mulai redup dalam sirnanya matahari
melenyapkan bunga-bunga yang telah layu
ditelan secara perlahan oleh pekat kegelapan
membuat langit berubah deras menyaksikanku
menulis kisah tentang kita……..

(Pondok Petir – Temanggung, 28 Oktober 2011)

MAAFKAN KAMI WAHAI PEMIMPIN BANGSA

Oleh : Edy Priyatna + Ina (No.99)

Maafkan kami…..
hari ini kami hampr lupa dasar negara
karena tiada nampak lagi dalam kehidupan bangsa
yang keadilannya telah sirna
hingga sumpah bangsapun tak ingat pula
apalah daya……..

Maafkan kami…..
kami hanya ingat ketuhanan yang maha esa
walaupun banyak perbedaan
kami ingat sedikit kemanusiaan
kendati masih belum adil dan beradab
kami juga ingat persatuan
tetapi masih banyak yang bercerai berai
kami tidak mengerti kerakyatan
yang kini dipimpin oleh wakilnya
kami mulai benci keadilan sosial
hingga kini telah hilang satu demi satu

Maafkan kami…..
kemarin mungkin kami terlalu senang
maklum……..
karena terlalu lama bersedih
selama 45 tahun
kami telah lupa arti
kami telah lupa diri
terbuai mimpi-mimpi reformasi

Maafkan kami…..
besok mungkin kami tak dapat bernyanyi
gita perkasa burung negara
karena jarang terdengar lagi
begitu pula bagimu negeri
ingat lagunya lupa syairnya

Maafkan kami…..
dulu kami tahu telah diajarkan
bahkan kami telah dicekoki
apa arti dasar negara
dengan gita semangat juang
pada lagu pekik merdeka
namun tak pernah merasakanya

Maafkan kami…..
sekarang kami tidak mengeluh
sekarang kami bukan merengek
karena kami tak ingin hidup sia-sia
perkenankanlah kami mencari kembali
tanah tumpah darahku
yang telah tercecer dipelosok nusantara
agar ingat lagi semua yang sirna
agar merasa telah merdeka
agar sadar dasar negara
agar kami ingat telah berjanji
bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu
Indonesia

(Pondok Petir - Hongkong, 28 Oktober 2011)

SESUAI PORSI

Oleh: Edy Priyatna + Nyi Pede (No.248)

selembar senyum perih ditanam
dari kabar orang-orang di sawah
sungai kerontang kelam menghitam
langit cerah terlihat tiada ingin tumpah

pencuri datang mengoyak-ngoyak
melihat padi yang mulai tumbuh
petani memburu jejak-jejak pijak
mempertahankan hasil panen nan utuh

hari ini aku pergi ke desa
membawa pesan dari sahabat
kabar indah dari semesta
air jatuh membawa nasihat

Jagung-jagung milik petani
subur dihujani terik mentari
sementara kulihat tikus-tikus mati
mereka telah diracun bumi

Tuhan senantiasa membagi sesuai porsi
dengan modal kebersamaan hati
saling memberi dan berbagi
agar tercipta kerukunan abadi

bila ada sepetak harap
inginku tanam kebahagiaan
agar anak cucu dapat mencecap
indahnya keselarasan dari Tuhan

(Pondok Petir - Denpasar, 28 Oktober 2011)

SUMPAHKU

Edy Priyatna + Ningwang Rozi (No.102)

Seingatku sumpah pemuda pada waktu itu adalah ; Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Seingatku sumpah pemuda pada waktu itu adalah ; Pemuda dan pemudi itu bersumpah demi persatuan, demi lahirnya sebuah bangsa dan demi sebuah kemerdekaan walaupun nyawa taruhannya.

Seingatku sumpah pemuda pada hingga kini sudah 83 tahun berlalu dan sumpah itu masih tetap berbunyi ; Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Sehingga sekarang aku jadi tahu bahwa ; Angin semakin deras menderu tak ada cara lain untuk mewujudkannya. Aku harus membuat pemuda bersatu. Aku harus menghilangkan rasa ego dihati, demi sebuah sumpah persatuan. Sumpah Pemuda untuk Indonesia senantiasa tetap bersatu.

(Bondowoso - Pondok Petir, 28 Oktober 2011)

SEPOTONG KEBISUAN CINTA [FPK]

Oleh : Tanti Sri Hartantie + Edy Priyatna (No.32)

*
Perempuan……..
Kau pasti tahu betapa sakitnya cinta dalam diam
dawai-dawai indah cinta yang terbalut dalam bungkam
diam yang berarti emas tidak berlaku disini
bagi cinta, diamnya adalah neraka

Kembaliku tersungkur di sudut-sudut perih
mengebiri rindu yang terbungkus sepi
sunyi… sunyi sendiri aku bosan
bagaimana mungkin aku melewati setiap duri kehidupan ini
sedang penantianku telah ditelanjangi oleh waktu

Detak jantungku selalu mengejar waktu
Tatkala jalanku tidak searah lagi
Mengingat kalbu telah tertitip jauh
Benakku kini sudah hampir penuh bayang-bayang rasa
Mestinya keheningan tak membuatku sepi

Bukankah di setiap mata lelaki itu mengandung binar liar serigala
dan di setiap lekuk tubuh wanita mampu meliarkannya
aliran meridian energi yang semakin membahana
untukmu yang selalu diam mencintaiku
*
(Cilacap – Pondok Petir, 28 Oktober 2011)

AKU ADALAH OKTOBER [FPK]

Oleh : Rieya MissRochma + Edy Priyatna (No.240)

Cintailah aku sepenuh hati.
Tetaplah pada jalur dadaku. Agar kita mampu bercumbu.
Mesra, tanpa paksa.

Cintailah aku.
Walau hanya sekejap waktuku dan waktumu.
Di pagiku dan pagimu. Di siangku dan siangmu. Di malamku dan malammu.
Sebab nanti akan selamanya : berdetik-detik, bermenit-menit, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Sembari menulis diujung daun yang mulai menghijau karena rengekan langit.
Aku pun menulis dengan ujung pena di ujung senyum hatimu.

Bahwa ;
Diriku, Oktober nan indah.
Sejuk.
Siap menangkapmu dengan titik-titik lelehan es yang jatuh memberi kedamaian jiwa.

Bahwa ;
Diriku, Oktober nan damai.
Meski berkelabatlah jasadku bagai halilitar menggelegar.
Tapi tangkap sinar yang terpancar dari jasadku,
Untuk menemanimu terlelap dengan pelukan gelap yang pekat.

Bahwa ;
Diriku, Oktober tiada gersang.
Maka jadilah kemarau hujanku. Atau hujan kemarauku.
Uaplah embun dan terangi panas. Atau lepaslah panas dan siram airmu.
Hembuskan badai yang deras. Leburlah diriku dengan gunturmu,
Hingga mendidih dan meluap. Meletus hebat.

Bahwa :
Diriku, Oktober. Yang masih tetap Oktober di tepian tahun.
Maka jadilah takdirku.
Sedialah engkau, rekatkan aku dipunggungmu. Tariklah dengan kencang tali yang menjulur di sela-sela kulit kasarku.
Lumatlah diriku dengan irama-irama,
Bagaikan alu-alu menari diatas lesung. Menari bersama padi kedamaian.

Cintailah aku.
Seperti gunung yang menumpahkan kasihnya pada petani pasir.
Seperti mati yang ditunggu pemuja Tuhan karena takut tersandung duniawi.
Seperti hidup yang meringis karena kelaparan memenuhi koran-koran harian.
Seperti tsunami yang berlari-lari menjemput bibir pantai yang seksi.
Seperti bangun dari lumpur kubangan,
kemudian hujan deras menusuk kelopak batas.
Memukul punggung kalbu, mengerang kenikmatan jiwa.

Cintailah aku.
Entah bagaimana maumu. Dan aku yakin itulah maumu.
Karena malu tak kan menyakitimu. Karena takut tak kan menjatuhkanmu.
Dan ragu tak kan menyesakkanmu.

Cintailah aku sepenuh hati.
Tetaplah pada jalur jiwaku.
Cintailah aku, walau hanya sebentar.
Pagi siang malam. Sebab nantinya akan abadi.
Berdetik-detik, bermenit-menit, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad.

Cintailah aku.
Dengan kesucian. Dengan keindahan. Dengan kesejukan. Dengan kedamaian. Dengan kelembutan.
Dan bukalah hatimu.
Lalu belahlah dadaku. Raihlah hati yang telanjang.
Agar dapat bersanggama.

Karena aku telah mencintaimu,
Berwaktu-waktu lamanya.

(Gresik-Pondok Petir, 28 Oktober 2011)

KEPADA PEMUDA BANGSA

Yang dulu telah berjuang
yang kemudian menjadi pahlawan
yang kini telah mewarisi
janji sumpah yang senantiasa bergema
tiada henti di seluruh penjuru nusantara
kami putra dan putri Indonesia berjanji,
akan menjaga untuk tetap bersatu
akan mengabadikan lentera nusantaramu
akan melebur semangat 28 Oktober menjadi pedang yang tajam
untuk selalu menjaga Sumpah Pemuda tetap bergema
kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia
sampai mentari tenggelam di seberang timur……..

(Pondok Petir, 28 Oktober 2011)